Kafir




Agama dalam urusan politik
Yang diumbar tanpa batas di ruang publik
Melahirkan kata kafir
Yang membelah bangsa

Untuk ada dalam 2 kubu
Untuk saling berperang
Celakanya bahkan di ruang privat
Anak dan orangtua

Suami dan istri
Ikatan sucinya telah terbelah 
Oleh ideologi Tuhan dalam ranah hidup bersama
Aku sebagai minoritas

Yang sudah berulang tertusuk oleh kata kafir
Dimulai larangan ucapan selamat natal padaku
Oleh orang-orang yang telah bertumbuh bersama
Dalam rumah kemanusiaan

Bahkan keramahanku untuk beri ucapan idulfitripun bersoal
Ucapan selamatku pernah ditolak
Karena aku tidak berpuasa dan barangkali tidak berucap syahadat
Kubiarkan luka mengganga itu

Karena takutku pada banyak orang
Ketika kafir dikumandangkan lantang
Untuk Ahok yang ingin jadi gubernur lagi
Bahkan anak kecilpun ingin membunuhnya

Karena ia tak beragama sama
Darahku mendidih
Jiwa perangkupun terbangkitkan
Bukan untukku yang telah meminum dan makan dari tanah Indonesia

Yang aku juga telah berpatriot padanya
Namun untuk masa depan Indonesia
Yang telah dipasang ranjau oleh kata kafir
Pecahkan manusia dalam kelompokku dan kelompokmu

Bhineka Tunggal Ika bisa jadi mulai kehilangan nyawanya
Akupun juga bisa jihad dalam pengertian bukan agamaku
Jihad untuk kemanusiaan, kejujuran dan cinta sesama
Keadilan sosial dan kesetaraan untuk bisa hidup layak

Itulah jihadku
Kafir yang memberi batas hubungan
Tak lagi kutakuti
Kalau kau ngotot sebutku kafir sebagai sesama saudara  sebangsamu

Maka mari kita uji kebenaran sosial yang ada
Melalui sejarah dalam konteks republik yang berdemokrasi
Juga arus globalisasi yang melanda kita
Mari kita uji niat kita

Dalam jihad yang sama-sama kulakukan
Dengan Tuhan sebagai hakim
Yang kupercaya hanya ada satu Tuhan Pencipta

Surabaya, 24 Februari 2019
Terpicu doa Neno Warisman

Loading...

loading...

loading...