Kita Butuh Bersatu Kembali


HARIANMERDEKA.ID| Saat ini tidak penting betul kita tahu apakah Virus Corona itu sebuah penyakit alami atau senjata biologis yang diciptakan. Bahwa itu diciptakan dari hari ke hari, indikasinya semakin hari makin besar. Varian dari apa yang disebut Covid 19 itu ternyata sudah ada lima, dan barangkali akan semakin banyak. Minimal yang di China (sebut saja Asia Timur), berbeda dengan di Iran (Timur Tengah) dan juga di Itali (Eropa). Menjelaskan kenapa ketika di China semakin surut, justru di Eropa makin menggila. Sementara di Iran seolah tak teratasi. Dan bagian yang paling anehnya, kelima varian tersebut semua berkumpul di Amerika Serikat, negara yang paling bisa dicurigai sebagai dalang. Bukan saja karena presidennya seorang maniak, penghalal segala cara, juga reaksi Trump sebagai presiden yang "nggaya dan angkuh" pada mulanya menganggap bahwa dirinya, warganya, dan negaranya tidak mungkin "diinvasi" virus tersebut.Tapi sekali lagi itu tidak penting! Eskalasi dampak penyebarannya merambat terlalu cepat, dan bagai gelombang tinggi yang bergantian menggulung tak kenal batas2 negara maupun skala peradaban. Yang berperadaban lebih tinggi tidak begitu saja bisa lebih cepat mengatasinya. Yang lebih rendah walau seolah merambat lambat. Tapi energi merusaknya justru luar biasa lebih kuat. Abaikan saja berbagai proxi war dan teori konspirasi. Karena inilah ancaman paling serius sepanjang peradaban modern terjadi. Kenapa?

Sasarannya tentu saja bukan kematian: jumlah yang mati dan yang jadi korban. Kelak kalau penyakit ini sudah berlalu, dan pasti berlalu. Jumlah kematian hanya akan dikenang sebagai catatan statistik belaka. Tapi perubahan yang diakibatkannya pasti akan lebih dahsyat!

Perubahan yang sudah di depan mata dan nyata adalah koreksi yang cukup keras terhadap perilaku beragama yang dalam batas2 tertentu ternyata menjangkau nyaris semua agama. Perilaku para "noisy mayority" di sebuah wilayah kadang2 memang keterlaluan. Alih2 merepresentasi agama sebagai tangan Tuhan mewujudkan sisi kemanusiaan dari seorang manusia. Mereka seolah justru membuat dan memaksa Tuhan harus mau hadir di peristiwa yang mencekam ini. Ya memaksa Tuhan hadir, seolah Tuhan justru seorang hamba yang pantas disuruh2. Di Malaysia yang kemudian berlanjut di Indonesia, sekelompok manusia tega membuat pertemuan dengan jumlah massa besar, hanya untuk berkumpul. Berkumpul yang dalam batas2 tertentu tak lebih sebuah "show of force", bikin panggung yang dalam bahasa sosiologis lebih disebut "crowded". Sejak kapan pun crowded adalah wilayah penyebaran penyakit paling efektif. Pun demikian adanya di tempat lain (dan ini jauh lebih membuat saya sedih). Sebuah penasbihan seorang pemuka agama (agama yang masih saya anggap paling menghargai inkulturasi) tetap meaksakan acara tersebut terselenggara. Walau pemerintah pusat melakukan himbauan untuk ditunda. Alasannya sungguh "sangat tidak beragama": Jadual sudah dibuat jauh-jauh hari dan tak bisa dibatalkan. Sesuatu yang pada zaman normal barangkali (baca sekali lagi barangkali) ada manfaatnya. Tapi di zaman anomali ini, selain kesombongan, keangkuhan dan bentuk ketidak pedulian. Mereka lupa bahwa kemanusiaan adalah hal yang paling penting. Ngeyel bagi kelompok sejenis ini still the best!

Padahal Tuhan itu otomatis hadir, terutama karena manusia itu ada. Ketuhanan yang berbanding lurus dengan Kemanusiaan. Jika Tuhan itu esa, maka manusia menjadi lebih adil beradab.

Dan bila perilaku agama saja sudah demikian carut marut, maka tak heran perilaku para pemimpin politiknya pun demikian. Cari panggung! Sisi baiknya barangkalai ini seleksi alam. Alam sudah bekerja sejak dini memberikan penampakan. Cara melihat dan membaca yang lebih jernih. Bahwa agama betul penting, tapi bukan yang paling penting. Bahwa ada manfaatnya, tapi juga bukan satu2nya instrumen. Bahwa gaya hidup kapital memang jalan menuju kemakmuran, tai sekaligus selalu dengan cara keserakahan. Sebagai sebuah monumen, semuanya tergerus ke bawah kembali membuatnya menjadai piramida. Ya piramida dengan mendudukkan kemanusiaan (humanity) pada puncak paling tinggi. Dalam konteks itulah sebenarnya perdebatan baik-baik saja, perbedaan pendapat masih dbisa ditoleransi. Bila dasarnya adalah kemanusiaan. Selebihnya ya cuma cari keuntungan pribadi.

Itulah mengapa setiap perilaku yang mengabaikan, menyepelekan dan seolah menantang pandemik ini sama saja saja degan menghina kemanusiaan. Sayangnya negara ini, masyarakat yang terlalu pemaaf. Terlalu gampang lupa. Masyarakat roller coaster, suka sekali kehidupan jungkir balik. Membaca secara terbalik-balik. Apalagi bila sengkarutnya masuk wilayah yang namanya iman. Pemimpin selalu melulu dilihat dari yang seiman.

Sementara ini biarlah virus ini menjadi pengingat. Kalau ia semakin menggila, kita harus menggangap bahwa yang harus dikoreksi memang terlalu banyak. Jika bisa segera berlalu, mungkin itu saatnya kita bisa lebih mudah mensyukuri arti hidup. Karena kita percaya Tuhan bekerja dengan tangan ajaibnya bernama kehendak alam. Manusia hanya bisa mengatasinya dengan pengetahuan dan teknologi. Sementara iman disimpan dalam hati paling dalam untuk meneguhkan keyakinan bahwa setiap masalah ada solusinya.

Dalam bahasa Jawa: ana lara, ana tamba. Tamba teka, lara lunga. Saatnya bersatu, berharap semua segera berlalu. Lebih dari situasi sebelumnya, kita harus merasa inilah saat terbaik bahwa kita butuh bersatu kembali


Penulis :Andi Setiono Mangoenprasodjo

0 Komentar

Posting Komentar
close