HARIANMERDEKA. ID, Ilmu Filsafat yang dalam mengarungi pencarian mengenai sumber kebenaran selalu berpijak pada hakekat keberadaan manusia serta menggunakan kekuatan akalnya, termasuk pengetahuan agama yang bersumber pada kitab suci dimana hal itu diyakini sebagai wahyu dari Tuhan serta di imani oleh para penganutnya.
Manusia akan menggunakan kekuatan berfikirnya untuk mengetahui kedudukan kebenaran yang bersumber pada ilmu pengetahuan dan petunjuk agama itu, sehingga kebenaran yang diperolehnya dapat bersifat mutlak untuk dijadikan pedoman bagi panduan kehidupan bagi dirinya serta umat manusia seutuhnya.
Berbagai jawaban yang bersifat spekulatif coba diajukan oleh para pemikir sepanjang sejarah dan terkadang jawaban-jawaban yang diajukan saling kontradiksi satu dengan yang lainnya.
Perbedaan jawaban yang diajukan menjadikan perbedaan mendasar pada pandangan dan pola hidup (pandangan dunia dan ideology) manusia sepanjang sejarah. Salah satu perdebatan mendasar dalam sejarah kehidupan manusia adalah perdebatan seputar sumber dan asal usul pengetahuan
Seorang Manusia memiliki akal dan selalu berusaha untuk menemukan sebuah kebenaran. Salah satu cara yang sudah ditempuh untuk memperoleh kebenaran, yaitu dengan metode melalui pengalaman atau empiris lalu dengan pengalaman yang diperoleh manusia itu akan membuahkan prinsip-prinsip atau hasil - hasil yang didapatnya melalui penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam atau dari kehidupan keseharian yang dijalaninya itu hingga menjadi hikmah dapat dimengerti olehnya.
Namun manusia acapkali lupa, bahwa Wahyu dan ilmu pengetahuan itu tidak serta Merta dapat untuk dilakukan sebagai eksekusi dari sebuah tindakan, ibarat suatu berlian, Wahyu dan pengetahuan manusia itu hanya sebatas batu "Bongkahan" yang memerlukan tehnik cutting dan Asahan agar menjadikannya sebuah permata bagi tuntunan hidup umat manusia.
Tindak lanjut dari pada itu, masih dibutuhkan oleh pikir melalui mekanisme akal dan tafakur sebagai perenungan, agar menumbuhkan suatu kebijaksanaan dalam mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari. Sebab hanya kebijaksanaan manusia sajalah yang akan menjadi out put dari suatu perbuatan apakah bernilai baik atau tidak.
Jika saat ini, banyak yang mendahulukan literasi kebenaran sebagai suatu keadaan yang mutlak dibandingkan kebaikan, maka sesungguhnya hal demikian menjadi keliru, sebab landasan kebenaran itu semestinya bertujuan untuk memunculkan kebaikan prilaku atau perbuatan. Dengan demikian, kebenaran hanya berada pada posisi yang disandarkan pada alasan dari kebaikan itu sendiri. Sehingga tidak ada kebaikan yang dapat muncul kepermukaan kecuali dengan landasan kebenaran baik itu yang bersumber dari agama atau pun ilmu pengetahuan sebagaimana kita pelajari bersama.
Dari kebaikan yang merupakan buah kebijaksanaan Budi dan pekerti, seseorang akan mengetahui etika dan moralitas dari prilaku hidupnya, sehingga pilihan untuk menjalani kehidupan melalui kesopanan dan tata Krama dalam menjalaninya merupakan keindahan dari baiknya kebaikan dan prilaku yang dijalani seseorang serta ketinggian akhlak yang akan ditampilkannya menjadi terpuji pula. Tanpa esensi itu, manusia tentu tidak berbeda jauh dari hewan yang sama-sama memiliki darah, tulang belulang serta daging yang tumbuh dan melekat pada tubuhnya. Kesadaran untuk menempatkan prilaku serta moralitas yang baik, adalah tujuan dari apa yang menjadi sumber kebenaran tersebut.
Dari uraian diatas, kita menyadari bahwa tujuan dari diturunkannya wahyu sebagai sumber kebenaran pada sisi agama yang dikelompokkan sebagai dalil Naqli bagi umat manusia, atau sumber kebenaran lain dari apa yang dihamparkan Tuhan melalui kenyataan alam semesta ini diciptakan untuk dijadikan sumber pencarian kebenaran melalui proses berfikir secara ilmiah atau yang biasa disebut sebagai dalil Aqli, tidak lain adalah untuk menjadikan akal Budi manusia agar menjadi baik dan memiliki pedoman hidup yang akan dijalaninya.
Sehingga jika saat ini, banyak dari mereka atau kelompok tertentu yang sengaja menabrak-nabrakan atau membenturkan keadaan atas apa yang disebut kebenaran dan kebaikan, tentu merupakan kegagalan proses berfikir yang masih diselimuti kebodohan. Demikian pula jika mempertentangkan antara kedudukan pentingnya agama dengan eksistensi kedaulatan negara, juga sebagai sesuatu hal keliru pula, sebab agama hanya dapat tumbuh dari suatu negara yang damai dan tentram, bukan dalam keadaan yang rusuh dan saling mementingkan Ego masing-masing.
