HARIAN MERDEKA. ID-Pada dasarnya setiap orang ingin dihargai oleh orang lain. Sebab dari penghargaan orang lain, seseorang merasa akan mendapat harkat dan martabatnya meskipun bukan sebagai pemancar kebaikan.
Apapun status sosial seseorang, hal itu bukanlah menjadi penghalang atau sebagai syarat mutlak untuk mendapat perhatian atas keberadaan dirinya. Entah dilingkungan keluarga atau pada komunitas sosial lain, atau bahkan lebih luas dari itu. Namun pada masa sekarang banyak sekali orang yang sulit menghargai orang lain, seperti menghargai pendapat atau pandangan yang berbeda.
Ketidakmampuan menghargai orang lain itu dapat terlihat dari ekspresi yang ditampakkan melalui respon seseorang terhadap lawan bicaranya. Persoalan ini menjadi polemik manakala sikap saling menghargai seakan punah begitu saja.
Sering orang menjadi terbawa emosi manakala substansi persoalan bergeser dari pokok pembahasannya yang cenderung mengandalkan pemikirannya sendiri tanpa melihat view point yang meliputi secara keseluruhan dari pokok permasalahan yang seutuhnya.
Bagaimana mengkemas permasalahan untuk disampaikan serta kalimat yang pantas digunakan, atau gaya bahasa yang layak diutarakan, sehingga ekspresi balik dari lawan bicara tentu menjadi bagian penting dalam memperoleh hasil apa yang diharapkan.
Kecenderungan seseorang yang ingin langsung to the point pada inti permasalahan justru akan menjadi beban dan sering mendatangkan respon yang kurang sedap. Hingga pembicaraan terkesan dead lock yang pada akhirnya berbuntut pertikaian para pihak.
Kedudukan seseorang acapkali menentukan skema pembicaraan, walau hal itu sering tak terungkap, namun ketentuan tak tertulis itu begitu nyata adanya. Sebab bagaimana pun, mereka yang menemukan prestasinya dalam membangun harkat dan martabat dirinya tentu perlu dihormati secara layak.
Sekalipun agama mengajarkan bahwa dimata Tuhan kedudukan, harkat dan martabat seseorang itu sama, namun kenyataannya manusia itu memang bertingkat-tingkat adanya. Sehingga menolak fakta ini akan menjadi persoalan bagi siapapun yang memiliki persepsi seperti itu.
Oleh karena hanya Tuhanlah yang berhak mengatakan demikian adanya, bukan keangkuhan manusia dalam mengcopy paste dari apa yang dinyatakannya.
Sedikitnya ada 3 aspek yang membuat seseorang itu sering pantas dihormati. Pertama, mereka yang memiliki jabatan tinggi tentu memiliki kekuasaan yang cukup tinggi serta gaji dan tunjangan kesejahteraan yang lebih tinggi dari posisi manapun dalam struktur kelembagaan, singkat kata segala sebutan yang tinggi-tinggi ada pada diri mereka yang memiliki jabatan ini hingga layak mendapatkan prioritas tertinggi pula. Lain lagi bagi mereka yang duduk pada posisi Kedua, golongan ini memiliki harta yang melimpah.
Orang semacam ini sering disebut Konglomerat yang disinyalir hartanya yang banyak, bisnisnya yang banyak dan uangnya yang banyak pula. Pendek kata sebutan apa-apa dengan jumlah yang banyak sering disematkan kepada orang yang satu ini.
Sedangkan yang Ketiga, adalah mereka yang berpengetahuan luas, wawasannya yang luas, serta keilmuan dan pengalamannya yang luas pula. Mereka yang masuk pada golongan ini adalah para ningrat seperti para Ulama, tokoh budaya tokoh bangsa, akademisi dan intelektual dan lainnya.
Sehingga sebutan dari segala sesuatu yang luas-luas itu sering disematkan kepada mereka. Sebab bagi mereka tidak ada lagi guru yang mampu mengajarinya kecuali Tuhan itu sendiri. Namun pada masa kini, banyak masyarakat yang lebih melihat potensi inner beauty dari diri seseorang. Dimana secara umum, inner beauty diartikan sebagai kecantikan yang berasal dari dalam yang terkait dengan psikologis kepribadiannya, seperti kebijaksanaan, kejujuran, kesopanan, kesabaran, kharisma, integritas, simpati, empati, dan kasih sayang.
Sehingga kemampuan mengolah diri seseorang hingga berprestasi apakah datangnya dari kemampuan otaknya untuk mendapatkan jabatan yang tinggi, harta yang melimpah, dan ilmu yang luas, atau upaya mengolah hati sebagai pancaran inner beauty seseorang, keduanya terkesan disamaratakan.
Malah semakin tidak tampak lagi adanya perlakuan khusus terhadap diri mereka, walau cara itu dirasakan sebagai tradisi masyarakat untuk menghormati eksistensi mereka. Tidak adanya ruang apresiasi publik terhadap diri mereka itu, hingga membuat para pejabat tinggi sekarang ini bersikap tak perduli dengan nasib rakyat yang justru bertindak korup, para pemilik harta yang hanya diam melihat kesengsaraan rakyatnya, serta para ulama, tokoh budaya dan bangsa, atau para akademisi dan intelektual yang bersikap masa bodoh dibalik kebodohan masyarakat saat ini.
Menjadi tidak aneh jika kita melihat adanya arogansi dari 3 komponen diatas, dimana para penguasa sibuk memberikan tekanan terhadap pengusaha dibalik kebijakannya yang dangkal, para pengusaha yang berinvestasi ke dunia politik dengan mengambil posisi sebagai bohir bagi kandidat penguasa baru yang sekaligus menggandeng para para ulama, akademisi, para tokoh bangsa dan budaya agar tujuan mereka tercapai.
Sebab melalui cara itulah masyarakat pun sengaja dibuat kebingungan antara memilih mereka yang jujur tapi bodoh, atau mereka yang pintar namun bobrok, termasuk memaksakan keinginan mereka agar menggusur pejabat yang memiliki pengalaman untuk ditukar dengan fresh graduate yang naik melalui money politik dengan mengantongi jumlah masa terbanyak.
Isu politisasi agama semakin marak dimana-mana, bahkan demi memperluas ruang itu, pemerintah pun dituding melakukan praktek islamophobia yang diartikan sebagai sikap atau perilaku ketakutan yang berlebihan, tidak mendasar dan seringkali tidak masuk akal terhadap sesuatu yang berbau Islam.
Upaya menyandingkan hukum konstitusi dan UUD45 terhadap hukum agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia pun semakin dibenturkan. Tumpang tindih pendapat dan saling berargumentasi diruang publik bagaikan pasar loak dengan hiruk pikuk kebisingannya.
Esensi kebenaran menjadi tidak mutlak untuk dipegang, sebab harga diri sebagai harkat dan martabat menjadi sikap yang dikedepankan. Jika sudah seperti ini, manalagi ada yang perduli terhadap pentingnya bertoleransi.
Penulis : Andi Salim
.jpeg)