Usulan Penobatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional Mencuat, Sejarawan Khawatir Masyarakat Lupa Akan Cita-cita Reformasi

 

Bonnie Triyana (baju hitam). /RMOL


HARIANMERDEKA.ID, Jakarta-Bonnie Triyana, sejarawan Indonesia, menyuarakan kekhawatirannya terhadap usulan untuk menjadikan mantan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional. Menurutnya, langkah ini mencerminkan adagium "sejarah ditulis oleh pemenang," yang sangat mengkhawatirkan jika dilihat dari perspektif akademik dan politik.

“Ini adalah langkah politik yang harus kita lawan dan waspadai,” tegas Bonnie Triyana kepada wartawan di Jakarta pada Rabu (22/05).

Bonnie menekankan pentingnya mengingat masa lalu untuk mencegah kembalinya cara-cara otoriter yang pernah dialami bangsa Indonesia saat rezim orde baru Soeharto berkuasa selama kurang lebih 32 tahun.

“Ia memperingatkan bahwa melupakan masa lalu dapat membuat masyarakat abai terhadap cita-cita reformasi yang telah diperjuangkan 26 tahun lalu. Menggulirkan wacana Soeharto menjadi pahlawan nasional dapat menimbulkan kekhawatiran akan pengabaiannya terhadap masa lalu dan melupakan perjuangan reformasi,” ungkapnya.

Sebelumnya, muncul wacana penobatan Soeharto sebagai pahlawan nasional setelah Presiden Jokowi memberikan gelar Jenderal TNI Kehormatan kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada Februari 2024. Partai Golkar juga mendukung usulan tersebut, merujuk pada kiprah Soeharto dalam membangun Indonesia.

Namun, Bonnie menegaskan bahwa mengangkat Soeharto sebagai pahlawan nasional dapat menimbulkan risiko masyarakat lupa akan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa, serta abai terhadap cita-cita reformasi yang pernah diperjuangkan.


Sumber:Rmol