
Purwokerto-Festival budaya Bisik Serayu 2024 menghadirkan momentum spesial pada malam kedua acara, Sabtu (07/09), di pinggiran Sungai Serayu, Banyumas
HARIANMERDEKA.ID, Purwokerto-Festival budaya Bisik Serayu 2024 menghadirkan momentum spesial pada malam kedua acara, Sabtu (07/09), di pinggiran Sungai Serayu, Banyumas. Rianto, maestro lengger Banyumas, secara spontan berkolaborasi dengan musisi asal Spanyol, Rodrigo Parejo, mempersembahkan pertunjukan tari kontemporer yang memukau penonton. Kolaborasi ini, yang di luar skenario, sekaligus menandai puncak perayaan ulang tahun Rianto, yang menjadi penggagas festival ini.
Memasuki hari kedua dengan tema “Budaya di Sudut Serayu,” acara ini menyajikan rangkaian pertunjukan tari dan musik. Selain kolaborasi Rianto dan Rodrigo, beberapa kolaborasi lain juga menghiasi panggung, termasuk Sean Hayward, Mukhlis Anton Nugroho, dan Dolly Nofer yang mengusung tema sungai dan alam. Penampilan dari musisi lokal seperti Melati Ayumi & Friends, serta Duo Nayeche dari Meksiko, turut memperkaya festival yang berlangsung di Joglo Gayatri, Desa Kaliori, Banyumas.
Penampilan tari topeng dari maestro Wangi Indriya asal Indramayu juga berhasil memikat penonton, dibuka dengan tarian dari penari cilik hingga remaja. Selain itu, beberapa sanggar lokal seperti Graha Mustika dan Kalamangsa turut ambil bagian, sementara dua penari Jepang, Miray Kawashima dan Yuka Takahashi, serta Mila Rosinta dari Yogyakarta, turut memeriahkan acara.
Bisik Serayu Festival 2024 bukan sekadar perayaan seni, tetapi juga sebagai bentuk keprihatinan Rianto terhadap ekosistem budaya sungai yang mulai terkikis. Menurut Rianto, filosofi lengger Banyumas sangat terikat dengan alam, khususnya air dan sungai. Ia berharap festival ini dapat membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekologi Sungai Serayu.
Festival ini juga menyajikan diskusi seputar ekosistem budaya sungai, melibatkan tokoh-tokoh seperti Elisabeth D. Inandiak, penulis berkebangsaan Prancis, dan Misbahuddin alias Daeng Bilok dari Sulawesi Selatan. Diskusi ini mengangkat isu-isu penting mengenai budaya yang lahir dari ekosistem sungai, dan bagaimana seni dapat berperan dalam menjaga alam.
Gatot, perwakilan dari kelompok masyarakat pengawas sungai, mengungkapkan harapannya agar festival seperti ini bisa terus berlanjut. Ia menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Banyumas.
Festival ini tidak hanya menjadi ruang bagi seniman untuk berkarya, tetapi juga sebagai wadah untuk merangkul kembali keterhubungan manusia dengan alam, khususnya Sungai Serayu yang semakin terancam oleh perkembangan zaman.
