![]() |
| Haedar saat menyampaikan pidato di Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Sabtu (20/12) |
HARIANMERDEKA.ID, Lamongan — Keterlibatan Muhammadiyah dalam penanganan bencana bukanlah hal baru. Organisasi ini telah aktif memberikan bantuan kemanusiaan sejak lebih dari satu abad lalu, tepatnya saat erupsi Gunung Kelud di Kediri pada 1919.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan bahwa tradisi kepeloporan tersebut harus terus dijaga dan dikembangkan melalui aksi nyata yang berlandaskan semangat Al Ma’un, yakni menolong sesama yang membutuhkan.
“Ketika Gunung Kelud meletus pada 1919, dari situlah gerakan penanggulangan bencana Muhammadiyah dimulai. Itu menjadi rintisan penting bagi kerja kemanusiaan kita,” ujar Haedar saat menyampaikan pidato di Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Sabtu (20/12).
Haedar menuturkan, pada masa awal tersebut sekelompok pemuda Muhammadiyah yang tergabung dalam Lasykar Kiai Soedja’ di bawah koordinasi Bahagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) melakukan penggalangan dana secara langsung dari rumah ke rumah untuk membantu korban erupsi Kelud.
Meski dilakukan di tengah keterbatasan, semangat filantropi warga Muhammadiyah tetap kuat. Menurut Haedar, kondisi tersebut justru menjadi cerminan nilai kepedulian yang harus semakin diperbesar di masa sekarang, ketika kemampuan dan sumber daya jauh lebih baik.
Ia menambahkan, konsistensi Muhammadiyah dalam penanganan bencana juga ditopang oleh sumber daya yang profesional dan diakui secara internasional. Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah bahkan tercatat sebagai satu-satunya tim medis darurat di Indonesia yang mendapat pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sejarah panjang dan kapasitas tersebut, kata Haedar, menjadi alasan Muhammadiyah selalu berada di barisan terdepan dalam merespons bencana, termasuk yang saat ini terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Pada kesempatan itu, Haedar mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus mendoakan serta menguatkan ikhtiar kemanusiaan dengan berbagi rezeki guna meringankan beban para korban bencana.
“Mari kita sisihkan sebagian rezeki yang Allah titipkan untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana, dengan kepedulian yang lebih besar,” pungkasnya.
Sumber :Muhammadiyah
