![]() |
| Prof. Siti Baroroh Baried |
HARIANMERDEKA.ID – Nama Prof. Siti Baroroh Baried menjadi salah satu jejak penting dalam sejarah pendidikan Indonesia dan perjalanan internasionalisasi 'Aisyiyah. Sosok kelahiran Yogyakarta, 23 Mei 1923 ini bukan hanya dikenal sebagai guru besar perempuan pertama di Indonesia, tetapi juga tokoh yang membuka jalan bagi organisasi perempuan Muhammadiyah untuk menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga dunia.
Semangat belajarnya telah tumbuh sejak kecil. Di hadapan kedua orang tuanya, Tamim bin Dja'far dan Siti Asmah, Baroroh pernah menyampaikan tekad sederhana namun kuat, "Hidup saya harus menuntut ilmu." Kalimat itu kemudian menjadi cermin perjalanan hidupnya.
Berakar dari Keluarga Pendiri 'Aisyiyah
Siti Baroroh memiliki kedekatan sejarah dengan lahirnya 'Aisyiyah. Dari garis ayah, ia masih memiliki hubungan keluarga dengan Siti Walidah, pendiri 'Aisyiyah sekaligus istri KH Ahmad Dahlan.
Kakek buyutnya, Kiai Fadhil, merupakan ayah dari Siti Walidah, sementara Dja'far—ayah Baroroh—adalah cucu Kiai Fadhil. Hubungan keluarga tersebut membuat nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah telah mengalir dalam kehidupannya sejak dini.
Menembus Batas Pendidikan
Perjalanan akademik Baroroh berlangsung pada masa ketika kesempatan perempuan menempuh pendidikan tinggi masih sangat terbatas.
Ia mengawali pendidikan di SD Muhammadiyah, melanjutkan ke MULO HIK Muhammadiyah, kemudian menempuh studi di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada sebelum meraih gelar sarjana di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1952.
Kehausannya terhadap ilmu membawanya ke Kairo, Mesir, untuk memperdalam Bahasa Arab pada 1953–1955. Pengalaman belajar di Timur Tengah kelak memperluas jejaring internasional yang sangat berpengaruh dalam kiprah organisasinya.
Guru Besar di Usia 39 Tahun
Pada 1964, sejarah baru tercipta ketika Siti Baroroh diangkat sebagai guru besar pada usia 39 tahun. Pencapaian tersebut menjadikannya perempuan pertama di Indonesia yang meraih jabatan akademik tertinggi itu.
Kariernya di UGM dimulai sejak 1949 sebagai dosen Fakultas Sastra. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Jurusan Asia Barat (1963–1975) serta menjabat Dekan Fakultas Sastra selama dua periode, yakni 1965–1968 dan 1968–1971.
Kepemimpinannya menunjukkan bahwa perempuan mampu memegang peran strategis dalam dunia akademik tanpa meninggalkan kontribusi di ranah sosial.
Arsitek Internasionalisasi 'Aisyiyah
Jika berbicara mengenai hubungan internasional 'Aisyiyah, nama Siti Baroroh Baried hampir tak mungkin dipisahkan.
Selama lima periode berturut-turut (1965–1985), ia menjadi Ketua Pimpinan Pusat 'Aisyiyah—masa kepemimpinan terpanjang dalam sejarah organisasi tersebut.
Melalui posisinya sebagai Ketua Biro Hubungan Luar Negeri, ia memperluas jaringan kerja sama dengan berbagai lembaga internasional seperti UNICEF, UNESCO, WHO
,UNFPA, UNDP, World Bank, The Asia Foundation dan World Conference of Religion and Peace.
Langkah tersebut membuat 'Aisyiyah semakin dikenal sebagai organisasi perempuan Islam yang aktif dalam isu pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat global.
Membawa Suara Perempuan Indonesia ke Dunia
Kiprah internasional Baroroh tidak berhenti pada kerja sama kelembagaan. Ia juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai forum luar negeri.
Salah satu momen penting terjadi ketika ia berbicara di Harvard University, Amerika Serikat, dengan mengangkat tema mengenai peran 'Aisyiyah dalam perubahan sosial perempuan Indonesia.
Baginya, forum internasional bukan sekadar ruang akademik, melainkan kesempatan memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam membangun gerakan perempuan berbasis nilai-nilai Islam.
Pada dekade 1970-an, ia juga menggagas program pengiriman kader 'Aisyiyah ke Amerika Serikat melalui kerja sama dengan Overseas Education Fund. Setiap tahun, dua hingga tiga kader terbaik mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama peserta dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Tahun 1972, ia turut mendorong kerja sama dengan Pathfinder Foundation, yang memperkuat berbagai program kesehatan dan pemberdayaan perempuan.
Jejak yang Diabadikan UGM
Dedikasi panjang Siti Baroroh Baried dikenang bukan hanya melalui karya dan gagasannya, tetapi juga secara fisik.
Universitas Gadjah Mada mengabadikan namanya sebagai nama gedung delapan lantai di Fakultas Ilmu Budaya. Gedung tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap warisan keilmuan, keberanian perempuan menembus batas, serta kontribusinya dalam pengembangan kebudayaan Indonesia.
Mengabdi Hingga Akhir Hayat
Di luar dunia akademik dan organisasi, Baroroh menjalani kehidupan keluarga bersama suaminya, dr. Baried Ishom, seorang dokter spesialis bedah yang pernah menjadi Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang anak.
Hingga akhir hayat, ia tetap aktif sebagai Pimpinan Umum majalah Suara 'Aisyiyah sekaligus penasihat PP 'Aisyiyah.
Pada Minggu, 9 Mei 1999, Siti Baroroh Baried wafat dan dishalatkan di Masjid Kauman, Yogyakarta.
Meski telah berpulang, warisannya tetap hidup. Ia dikenang sebagai perempuan yang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan pengabdian dapat berjalan beriringan—serta sebagai tokoh yang membawa nama 'Aisyiyah melangkah dari Kauman menuju panggung dunia.
