Melukis Jaman
Oleh : Bagus Pulunggono
Kadiv Media dan Komunikasi Barnas Jokowi - Maaruf Amin Jawa Timur
HARIAN MERDEKA.ID, Hari ini dari Bojonegoro melihat kok banyak yang pakai baju model pejuang ya ? Loh kok ada yang upacara ?
Owalaah... ternyata hari ini 10 November to !
Tahukah kamu ada apa di 10 November itu ?
Bukan itu , bukan tanggal kamu jadian ! Bukan juga tanggal kamu putus dan menjadi mantan.
Hari itu pertiwi mendung , banyak air mata yang tertetes pada mayapada ada pertempuran hebat di Surabaya. Pertempuran yang tak bisa kita gambarkan bagaimana kesedihannya . Pertempuran yang tak bisa kita gambarkan bagimanana dioramanya. Banyak darah tumpah , balung semplah dan juga mayat - mayat pejuang pating belasah.
Kalaupun hidup mereka diiringi kecacatan yang miris dan memilukan.
Waktu itu dibenak mereka tidak ada pemikiran ingin bekuasa , mereka hanya berfikir kita harus menang dan mempertahankan kemerdekaan .
Kamu tahuartinya apa ? Ya , mereka mempertahankan bendera yang kau hormati di upacara hari ini , Mereka mengorbankan materi hingga gugur sebagai pejuang sejati yang kaliantaburi bunga hari ini .
Ya mereka adalah pejuang yang jika kau lihat hari ini , baju mereka sama seperti yang kau pakai upacara hari ini .
Lalu bedanya apa kita dengan mereka ?
Jikalau kamu ingin tahu coba renungi ,
Mereka berjuang hingga mati hanya untuk mempertahankan merah putih , tetapi kita hari ini dengan susah payah ingin merobek nya kembali.
Mereka gugur mengusir penjajah , kita sibuk bekelahi antara sesama anak bangsa.
Mereka gugur mempertahankan kemerdekaan , kita sibuk merobeknya dengan beraneka macam alasan pembenaran.
Mereka gugur atas nama sebuah negeri yang mereka nilai harus dipertahankan hingga mati , kita sibuk mekontak - kotakkan dengan alasan golongan, suku atau bahkan prinsip pilihan .
Generasi seperti saya dan kita semua harus nya paham
Mereka tak seperti kita, mereka tak bisa makan sate atau gulai yang enak yang dijual dipinggir jalan hingga restoran.
Mereka tak bisa merasakan seperti itu enak nya minum kopi di starbuck .
Mereka tak bisa merasakan seperti kita , pergi ke jogja berwisata atau ke Pantai Parangtritis menikmati hawa dunia serasa surga.
Mereka tak merasakan enak nya bermain sosial media Ig , Twitter , Facebook atau apa lah yang kita pakai . Bahkan mereka membaca koran pun tak sempat ,
Mereka hanya mendengarkan Radio tua yang isinya bukan lagu dangdut .
Mereka mendengarkan sejauh mana negara kita mampu bertahan , musuh sampai mana dan sejuah mana perjuangan kita bisa dilakukan.
Mereka membaca koran ? Iya betul tetapi isinya hanya ultimatum menyerahkan diri atau mati .
Bung , mereka memilih mati !
Bukan alasan surga atau ingin dipuji , mereka hanya memiliki alasan yang kuat bahwa membela tanah air adalah sebagian iman .
Jaman mereka berbeda dengan kita .
Kita tak dituntut untuk mengangkat senjata atau bahkan mati berperang seperti mereka .
Kita hanya dituntut untuk menjaga apa yang mereka perjuangkan .
Menjaga bagaimana hanya satu Bendera yang berkibar diatas negara kita yaitu Sang Merah Putih Perkasa.
Mereka tak menuntut kita bejuang angkat senjata membawa taki ari kemana mana , mereka hanya menginginkan kita gigih berjuang membawa negara yang disebut Indonesia ini maju adil dan sejahtera .
Kita dengan mudah bisa mengakses segala media maya , tetapi kita lupa bahwa menjaga silahturahmi dan persatuan adalah hal fundamental kita lakukan.
Bung, aku dan kalian semua sama .
Melukis jaman yang lebih baik dan lebih mulia.
Mungkin kita lupa suara mereka tetap sama meski mereka telah tiada yaitu Indonesia Raya dengan keadaan keberagamanya !
![<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- harianmerdeka01_sidebar_AdSense4_336x280_as --> <ins class="adsbygoogle" style="display:inline-block;width:336px;height:280px" data-ad-client="ca-pub-6620605763579297" data-ad-slot="1512621673"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfm2xD60lK2DbG3nFqD-fY2c00DmVcFCQBCgEZ17f2QcY66xgkgThQzp5lmAf4QYn9rHTLzNMq40eek4_4IeahMuaW8pMxloYVOmjpaseDC4FaoQBNBicwwje-wpIM8Y8I6KPaF7vH5Z4/s640-rw/Masa_Seni_Lukis_Baru_di_Indonesia.jpg)