HARIANMERDEKA.ID|Bagi saya ini kartu pos yang cukup aneh, dimana berbeda dengan umumnya tradisi kartu pos akhir tahunan. Tentu menyangkut ucapan Selamat Natal dan tahun baru, yang biasanya sangat bercita rasa Barat. Atau minimal bercita rasa cemara berhias lampu dengan bintang di puncaknya, atau gambaran hal2 yang bersifat Kristiani. Apakah gambar kemegahan gereja, suasana Misa, Pastur yang penuntun atau suster yang pengasih. Ini kartu pos yang "agak ngawur", antara gambar dan teks sama sekali tidak nyambung. Ilustrasinya adalah sebuah lukisan model Sokaraja-an, sejenis Indie Mooi, kemolekan suasana pedesaan yang sering diejek oleh Sudjojono sebagai "ora kethok jiwa"-ne. Sebuah keindahan yang menipu, tanpa jiwa. Sokaraja sendiri adalah sebuah daerah di Banyumas, yang di luar terkenal dengan soto-nya (mereka menyebut sroto) juga singkong goreng yang endes. Konon lukisan Sokaraja-nan dipelopori oleh para buruh pabrik roti di Bandung yang berasal dari daerah ini. Mereka memanfaatkan bekas kantong terigu sebagai media untuk belajar melukis, mencontoh para pelukis Barat yang populer saat itu sebagai aliran Indie-Mooi. Setelah pulang kampung, mereka bukannya dagang roti tapi malah jadi pelukis.
Lukisan Sokaraja sendiri selalu menampilkan tiga unsur pemandangan, yang di dalamnya mengandung tiga hal pokok yang identik dengan makna kehidupan tentang harapan-harapan manusia. Gunung punya makna pencapaian terhadap cita-cita. Sedang sungai menjadi harapan rezeki yang mengalir tidak putus-putus. Biasanya juga ada rumpun bambu atau pepohonan yang mengartikan harapan panjang umur. Agak lucu juga dalam luksan ini, sangat ditonjolkan pohon flamboyan yang sedang mekar dengan warna merah bunganya. Flamboyan sendiri bukanlah tanaman endemik Indonesia, namun berasal dari Madagaskar, Menjadi cepat opuler di Indonesia juga karena keindahan bunganya yang sering disebut Queen of Flame (Ratu Api). Tampilan bunga yang benar-benar mencolok serta bentuk mahkota bunya mengembang seperti cakar. Saya bisa mengerti kenapa pohon ini sangat ditonjolkan dalam lukisan di atas, karena memang bunga flamboyan sangat punya manfaat pokok untuk menaikkan mood. Mood itu kalau bahasa Jawa kerap disebut "greng" atau "ngeng". Dalam bahasa prokem kaum peminumal jalanan Jogja sering disebut sebagai Lapen (langsung Penak). Ngawur! Intinya flamboyan dapat merangsang kita menjadi lebih bergairah.
Dalam lukisan di bawah ini sungai terlihat hanya tempelan minimalis, tapi justru yang ditonjolan jalanan lebar dan sebuah rumah model Limasan. Mungkin untuk memberi ruang sebuah gerobak sapi, yang justru menunjukkan bahwa lukisan ini bukan Sokaraja. Tapi dibuat di (atau oleh orang) Jogja, karena model gerobag sapi seperti ini memang sangat khas di bawah ini. Dengan ciri khas menonjol hiasan tanduk besar pada bagian trucuk (ujung melengkung di depan seperti bajak kayu), gribig (dinding yang ada disebelah samping kanan dan kiri berupa anyaman), manukan (kayu panjang menengadah ke atas), serta tumpangsari (tempat bajingan duduk mengendalikan sapi). Sosok perempuan seperti di gambar ini, mengingatkan saya pada lukisan Ernest Hardouin berabad sebelumnya. Dengan kebaya merah, jarit model sogan dengan selendang terselempang. Seolah menghindar, menjauh dari gerobag yang akan berpapasan. Lebih mendekat pada sosok lelaki yang menunggu di samping rumah di bawah pohon kelapa. Sebuah suasana pedesaan Jawa yang saya pikir jadi aneh ketika diberi teks Merry X'mast and Happy New Year. Tapi siapa yang bisa melarang?
Kartu pos ini dikirim oleh sebuah keluarga Tionghoa dari marga Kam yang tinggal di Surabaya untuk sahabat mereka orang Amerika yang tinggal di Fort Atkinson. Dikirim dengan perangko dengan total senilai Rp 7,5 yang terbagi dalam lima keping perangko dengan gambar yang berbeda. Satu seri perangko Hari Peringatan Malaria dengan cap pos tahun 1958.
Betapa pun tidak nyambung gambar ini, sebetapa pun anehnya. Karena out of context. Gambar ini seolah mengirimkan pesan sederhana: salam damai Natal. Sedamai harmoni kehidupan di desa pada masa lalu. Tentu bukan yang hari ini.
Selamat Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.
Loading...
loading...
