Ngelmu Golek Slamet

Foto ilustrasi dua Arca Gupala di reruntuhan Candi Sewu, simbol raksasa penjaga yang ditakuti tapi sekaligus bikin geli. Tapi tak lebih pengingat, betapa hal terburuk adalah jejak yang paling sulit dihapuskan. Postcard koleksi Indonesia Early Visual Documentary (IEVD) terbitan Tan Bie Je, Djocjakarta c. 1910.
HARIANMERDEKA.ID|Orang Jawa itu adalah makhluk yang paling seneng mengejek dirinya sendiri, hidupnya sendiri. Ironinya sendiri, keabsurditasan-nya sendiri! Makanya kalau ada orang Jawa hidupnya terlalu serius dan tegang itu aneh. Serius disini bisa dibaca sebagai merasa dirinya paling benar, merasa dirinya paling hebat, paling ahli ini itu, dan yang akhir2 ini: pewaris ini itu. Syurga salah satunya. Surga kok diwarisi, nggone mbahmu po? Dan yang paling absurd adalah kehilangan selera humor, padahal konon banyak peristiwa penting yang mengubah sejarah justru bermula dari rasa humor yang satir. Kompleks Candi Sewu di Prambanan contohnya, yang mitosnya dibangun oleh para dedemit yang kehabisan waktu. Memang cukup dibutuhkan waktu semalam, untuk 1000 candi. Tinggal kurang satu, tapi kalah cepat karena ayam-ayam dibangunkan dengan lebih dini. Dengan kentongan tentunya. Jadi kalau Anis Baswedan bilang, warga Jakarta bisa diperingati secara dini dengan kentongan bila banjir akan datang. Yang saya bayangkan, warga Jakarta itu tak lebih yam-ayam  yang kerjanya setiap hari kalau tidak berkokok, ya berkotek. Lagi senang ribut, tatkala susah ribet! Ini adalah salah satu contoh ilmu golek slamet, mencari selamat. Sesungguhnya kata slamet sendiri tidak sama dengan selamat dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jawa terjemahan selamat adalah sugeng. Slamet lebih pada konteks terhindar, bukan sehat, apalagi sejahtera.

Karena itulah mantra paling humoris dalam bahasa Jawa yang paling terkenal adalah sluman slumun slamet. Lebih enak diucapkan, tapi pemahamannya tidak banyak yang sungguh2 mengerti. Dimana, dua kata awalnya sesungguhnya cuma permainan bunyi. Artinya tidak terlalu penting. Sebagaimana juga gothak gathuk mathuk. Apa itu gothak, gak ada artinya. Gathuk masih ada maknanya, lah mathuk itu cocok! Itu ilmunya orang kurang kerjaan, yang selalu menghibur diri bahwa selain menganggap diri sebagai penemu, juga sekaligus paling beruntung. Yang kemudian akan ditanggapi lawan bicaranya dengan judes sebagai sak karepmu! Kembali ke sluman slumun slmaet, memiliki pemaknaan sebagai berbuat atau bekerjalah secara sungguh2, bersikaplah sekreatif mungkin, sekeras mungkin, lalu setelah itu berharaplah selamat. Selamat dalam arti terhindar dari masalah. Kan aneh, setelah ribet, kok cuma cari slamet. Di sini artinya, di luar orang Jawa sangat memahami resiko sebuah perbuatan, tidak terbatas baik atau buruk.

 "Orang hari ini" kadang beranggapan bahwa ketika kita berbuat baik, maka tak ada resikonya. Ya salah! Resiko berbuat baik itu (hanya) lebih sedikit dibanding perbuatan buruk. Tapi berbuat baik, sebagaimana berbuat buruk juga punya anak kandung masing-masing Dalam bahasa agama, kadang disinilah dibedakan nikmat, rahmat, musibah, dan azab. Keemmpatnya bisa saling bertukar tempat duduk. Walau sesungguhnya tempat duduk hanya satu, cara memaknainya saja yang berbeda. Konon inilah kunci, kenapa orang Jawa dibanding etnis yang lain di masa lalu, umurnya relatif paling panjang. Karena suka nrima lan semeleh...
Karena itulah, ngelmu golek slamet itu sesungguhnya semakin modern, semakin kapitalis, bahkan yang ironis semakin agamis seseorang ia akan semakin menonjol. Sepanjang hari adalah golek dalan, terus golek slamet. Ribet di awal, ribet di belakang. Bedanya, manusia zaman dulu lebih santai menghadapinya. Beda dengan orang di hari ini, yang manuvernya sungguh tidak masuk akal. Dan saya harus sekali lagi minta maaf (karena jangankan Anda, saya pun bosan) dengan memberi contoh dua pribadi yang saat ini bagi saya paling fenomenal. Bedanya yang satu sudah lama mengakhirinya, yang satu baru memulai tapi tentu saja akan berakhir dengan cara dan pada titik yang sama. Kebetulan sekali, dari berbagai literatur yang saya pelajari keduanya punya karakter yang nyaris mirip. Dengan benang merah yang sama: suka menghalalkan segala cara, menggunakan uang sebagai alat utama, dan sialnya sesunggunya punggungnya rapuh sekali. Tak punya akar yang kuat, tapi menikmati sebagai bandar permainan, sekaligus koda troya bagi banyak kepentingan. Keduanya punya julukan yang sama: The Lonely Man, Manusia Kesepian. Dan output tentu saja sama; keamburaduan dan kekacauan, sebuah legacy yag kelak akan dikenang sebagai "bagian waktu yang terburuk".Contoh tersebut adalah SBY dan AB, keduanya dibesarkan dalam naungan interest yang sama: Amerika. Keduanya, juga sesungguhnya adalah sebuah rangkaian estafet antar masa. SBY di masa lalu, AB di hari ini dan yang diharapkan ke depan. Memahami keduanya, sesungguhnya tak ada sangkut pautnya dengan agama, agama hanya menjadi alat bagi keduanya. Dan sejauh ini sangat ampuh! Lalu apa ujungnya.

Di luar praktek ilmu malingnya, dimana AB sangat belajar dari SBY. Ia harusnya juga mau sedikit mamahami bagaimana mengerikannya masa tua dirinya kelak. Hari2 SBY adalah ngelmu golek slamet yang paling dramatis. Apa pun dilakukannya untuk mencari slamet. Anak, istri, teman, kerabat, pendukugnya semua dikorbankan. Berhasil? Kalau ukurannya hukum dan penjara, tentu saja belum! Dan barangkali tidak! Tradisi di Indonesia sejauh ini masih sangat kuno dan terbelakang: hanya maling yang tertangkap tangan, dengan ayam di tangannya yang harus masuk penjara. Sedangkan maling2 yang lainnya, hanya boleh kalah dalam dunia rasan2. Dunia rumor tak berkesudahan. Bahagia kah mereka? Tanyakan saja sendiri.

Dua hari yang lalu saya ikut workshop Qi-Hong: Terapi Anti Kanker. Saya jadi paham, kanker itu dasar awalnya adalah ketidaksatabilan emosi. Orang yang tidak stabil emosinya itu, di luar suka marah2, sebaliknya juga terlalu sering memendam. Ujungnya sama saja. Setelah sekian kedajjalan yang mereka lakukan.
Keduanya sama saja seneng golek slamete dewe. Dengan bagian terburuk menjadikan orang lain sebagai tumbal
.
.Penulis : Andi Setiono Mangoenprasodjo,
.


Loading...


loading...