HARIANMERDEKA.ID|Secara
pribadi (sebenarnya) saya sudah memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan figur
yang namanya Anis Baswedan. Pun jika lima tahun di bawah dirinya, Jakarta makin
ambyar, saya tidak terlalu hirau. Itu harga yang harus dibayar. dari para
pemilih yang dungu. Pun warga Jakarta secara keseluruhan yang tidak pernah
sungguh-sungguh berjuang dan mau bersatu! Di
luar itu, saya sadar setiap tulisan atau status yang menyinggungnya, hanya
berguna melulu menjaga rating-nya. Untuk tetap diingat eksistensinya, dengan
harapan membangun "bola liar simpati" yang setiap saat bisa berbalik
arah. Dari seorang public enemy menjadi media darling.
Pengen niru Jokowi dengan jalan
melingkar-lingkar. Analoginya dia ini, seperti
produk rokok. Sekali pun dilabeli rokok itu membunuhmu, sekalipun di bungkusnya
ada gambar mengerikan dan menjijikkan. Tetap saja ada yang membutuhkan dan membeli.
Berapa pun harganya. Coba sesekali, kritik para perokok. Pasti mereka akan
teriak kencang sekali, sayalah penyumbang pajak yang membiayai jika dirimu
sakit. Tanpa rokok, tak ada Liga-liga Eropa yang bermutu di televisi. Tak ada
rokok tak ada pertunjukan panggung yang murah dan bermutu. Tak ada rokok, cih!
Saya
kembali merasa jengkel dan sangat marah. karena kepulangan orang yang saya
anggap guru. Pribadi rendah hati yang tak pernah secara sengaja mencari
permusuhan dengan siapa pun, AE Priyono dijadikan ajang unjuk gigi. Mending
kalau faktanya benar, ini sebagaimana biasa melulu hoaxs dan tipu-tipu. Peristiwanya, sehari setelah beliau
meninggal. Tiba-tiba muncul klaim dari seorang
buzzer AB bahwa masuknya Mas AE ke RS Polri adalah berkat jasa AB. Sebagaimana
diketahui, setelah tak tertangani di sebuah RS Swasta di Depok, memang nyaris
tak ada satu pun RS yang dapat menampungnya. Semua penuh. Belakangan klaim
tersebut, terbukti sebuah kebohongan. Adalah tiga orang yang berbeda, yaitu Eva
Kusuma Sundari, Alisawahid dan Lukman Hakim Syarifudin yang secara nyaris
bersamaan menghubungi Mariya Mubarika seorang dokterdalam lingkaran dalam
Istana. Untuk dicarikan solusi terkait terkatung-katungnya kondisi Mas AE. Beliau yang terakhir
inilah yang kemudian menghubungi Brigjen Musyafak, sebagai Kapusdokes Polri,
yang kemudian memberi faslitas perawatan intensif ICU dengan Ventilator.
Berhenti di situ? Tidak!
Setelah
mas AE meninggal, ejekan bahwa ia adalah pengkhianat Islam dengan mudah
ditemukan di akun Mas AE. Sebagai Ahokers yang di ujung hidupnya ditolong oleh
AB nyaris serempak seragam diteriakkan. Senada dengan kasus "bergetarnya
suara AB". Karena, mungkin akun itu terbuka, sehingga siapa saja bisa
berkomentar. Maka membanjirlah hujatan yang saya pikir, di luar tanpa
kesopanan. Juga sangat tidak menunjukkan empati kepada keluarga, dan terutama
simpati terhadap perjuangan mas AE selama ini. Tuduhan-tuduhan bahwa ia adalah seorang Syiah, mungkin karena
beliau adalah pengagum sufi-sufi besar
dari Persia menghajar sedemikian enteng. Hingga selama sehari, keluarga mas AE
menutup akun facebook-nya. Untunglah setelah, dibersihkan. akun tersebut dibuka
kembali. Dan bagian terburuknya diserbu lagi, di status-status di masa lalu yang tak ada hubungannya.
Keji!
Ada apa ini?
Simple:
hanya karena klaim mereka terbukti hoaks. Dan untuk menutup malu. Sebagaimana
api yang disiram bensin, ia membakar balik dengan sangat cepat! Siapa kah mereka
ini? Sial betul, penyulutnya adalah seorang mantan (atau masih, sic!) wartawan
SKH Republika. Rumah yang sama dimana juga mas AE pernah bekerja. Rajatega!
Saya
hanya merasa kesedihan saya berlipat-lipat.
Sedemikian rupa kah cara mereka membenci dan memelihara api dendam? Di tengah
pageblug yang tak pasti kapan ujungnya ini. Di saat mestinya kita tunduk
mengharu dan membeku. Mengaku kalah, lemah, dan tak berdaya. Berdoa tanpa
suara.
Sampai Kapan Lagi...?
Penulis : Andi Setiono Mangoenprasodjo

