HARIANMERDEKA.ID|Saya gak tahu apakah status ini pantas dan perlu, bahkan untuk
sekedar dituliskan. Karena kita selalu saja melihat sebuah kematian itu sebagai
sesuatu keniscayaan. Kehendak Gusti, yang seharusnya titik. Tak perlu ada
penjelasan, apalagi penelaahan. Buat apa dipelajari atau dipaham-pahamkan, bila sudah dikehendaki itulah yang
terbaik yang harus terjadi. Jika ada yang kurang berkenan, maafkanlah saya.
Banyak
peristiwa lelayu, di sekitar saya. Tapi tentu saya memilh dua yang paling
menyentuh secara langsung dan membuat saya merasa nestapa berkepanjangan. Tokoh
pertama adalah sahabat saya sendiri, tentu saya sangat mengenalnya. Walau dalam
peristiwanya, jelas sangat berjarak. Dan saya pikir memang tak ada satu pun
sahabat dekat yang bisa dimintai cerita secara lebih detil. Yang kedua, seorang
tokoh fenomenal, yang tak ada seorang pun yang tidak memuji kualitas karyanya,
kerendah hatinya, konsistensi kerakyatannya, dan bla bala lainnya yang melulu
hal-hal baik. Namun benang merah
keduanya sama: meninggal dalam suasana pandemic Covid 19. Di sinilah saya
pikir, arti penting tulisan ini dibuat. Bagaimana pageblug ini bisa membunuh
kita secara tidak langsung, berkait dengan kepanikan, kebingungan,
kekhawatiran, kegelisahan. Segala hal yang sifatnya menyerang sisi psikologis
dan otak sisi kanan kita. Apa yang hari-hari ini
populer disebut amygdala. Tak lebih.
Perkenankan
saya bercerita sedikit tentang sahabat saya. Dia pribadi yang sangat baik, dan
dalam kurun panjang hidunya selalu beruntung. Pandai bergaul dan mengisi waktu
luang. Sependek yang saya tahu, dalam kurun cukup panjang, ia dirumahkan di
perusahaan tempatnya bekerja. Hal yang terkait dengan kebijakan pemerintah,
yang melarang ekspor raw material yang musti diubah dulu menjadi barang
setengah jadi. Tiga bulan ini, adalah awal mula dia mulai (lagi) bekerja di
lapangan. Ndilalah, mungkin bertepatan dengan mulanya wabah ini. Ndillah-nya
lagi, ia ditempatkan di sebuah pulau besar di Maluku Utara. Dimana ia harus
pergi jauh dari keluarganya dan ini bagian yang paling kurang dipahami orang:
binatang-bintang piaraan klangenan
kesayangannya. Singkat cerita, selama dirumahkan ia menjadi kolektor ayam-ayam hias, yang menurut saya pasti mahal. Dia
memiliki tidak saja burung merak, tapi juga ayam-ayam hias lain yang saya pikir kelas lomba. Ini
saya tahu dari berbagai macam ucapan duka cita yang sebagian besar justru
berasal dari komunitas ini. Dimana ia selain jadi pengurus juga juri dalam
banyak lomba.
Sebagai
sesama orang Jawa, di umur yang tidak muda lagi. Saya sungguh bisa ikut merasakan.
Jauh dengan keluarga di rumah tentu sudah satu masalah, tapi jauh dengan
binatang klangenan itu barangkali lebih menyiksa lagi. Dobel beban derita
inilah, yang harus beliau tahan ketika pandemic itu terjadi. Ia sehat dan tidak
terpapar. Tapi jantungnya rupanya yang tidak kuat. Setelah beberapa kali
mengalami serangan pendek (lemah saya pikir). Yang terakhir lah yang akhirnya
merenggut nyawanya. Kabotan pikir menurut saya.
Kasus
kedua, tentu menyangkut penyanyi pop Jawa paling populer sejagad: Didi Kempot.
Sudah terlalu banyak tulisan yang menampilkannya sebagai seorang hero. Tapi tak
banyak yang menuliskannya bagaimana ia harus meninggal di saat-saat terakhirnya. Bahwa ia sangat lelah atau
mudah lelah, sesungguhnya siapa pun dapat dengan mudah melihatnya. Ketika di
panggung, beliau sering berkata ayo diobahke alon-alon. Maksudnya mengajak bergoyang pelan-pelan saja. Saya pikir itu lebih pada
mengingatkan diri sendiri daripada rang lain. Dari banyak tulisan Mas Sunardian
Wirodono, saya tahu sudah sejak lama beliau mudah lelah, di luar
barangkali gampang stres. Bagaimana sebelum naik panggung perlu seteguk dua
teguk minuman doping. Hal yang sangat lumrah melanda siapa saja yang paham
dengan dunia panggung. Sahabat saya yang lain, Kang Pepih Nugraha,
membandingkannya dengan Mbah Surip, dua tokoh yang juga memperoleh "second
wind", angin keberuntungan, naiknya popularitas kedua kalinya. Dalam
konteks Mas Didi memang tidak kira-kira, konon
setiap hari ia harus pentas. Hanya peristiwa Covid-19 sedikit menmperlambatnya.
Tapi
tidak juga ternyata. Ia justru berinisiatif mengadakan penggalangan dana dengan
bekerjasama dengan Kompas TV. Peristiwa itu baru belakangan kita tahu itu
adalah inisiatif pribadinya. Bahkan ia mau menanggung seluruh biaya produksi di
rumahnya. Asal Kompas TV mau bekerjasama menanyangkannya. Dan jegler, sukses
luar biasa. Miliar dan rupiah diperoleh, dan langsung dibagikan kepada banyak
organisasi sosial terutama di lingkaran NU dan Muhammadiyah.
Tak kurang dari
Presiden Jokowi-pun mengucapkan terimaksih atas insiatifnya itu. Tapi peristiwa
kecil, yang saya pikir pasti sangat disesali oleh keluarga maupun penggemarnya
di malam itu. Barangkali sudah dianggap peristiwa biasa. Tiba-tiba penyakit asma-nya Mas Didi kumat. Sudah
tersengal-sengal sejak malam.
Tapi angota keluarganya
sedemikian takut membawanya ke rumah sakit. Saya bisa bayangkan penyebabnya:
takut tidak bisa ditengok, khawatir tidak boleh ditemani. Khawatir ini-itu yang
saya pikir khas keluarga Jawa kelas bawah. Jadi bisa dimengerti ketika akhirnya
sampai di RS, iadinyatakan sebagai cod-blue (sudah meninggal jauh waktu sebelum
sampai). Sebuah bukti lain bahwa memang mereka sesederhana itu cara berpikirnya.
Kekayaan dan popularitas tak bisa mengubahnya
.
Sekali
lagi, ini hanya dua buah pertala, contoh betapa kejinya situasi yang terjadi
saat ini. Bagaimana orang sekuat atau semapan apapun tiba-tiba jadi
mudah panik, bingung, nglangut dan nestapa. Saya tidak bisa bayangkan, jika
pandemik ini makin lama berlangsung tanpa ujung. Mbok yao, mereka yang masih
sehat itu, kita-kita ini. Mulai lah berhenti omong
kosong, bertengkar yang tidak perlu. Berempatilah, bahwa tidak setiap gosip itu
berguna, sudahilah dulu banyak berteori, apalagi membuat kabar-kabar yag tidak jelas. Kita memang tidak bisa
mengubah jalan kematian. Tapi kita juga tidak perlu mempecepatnya dengan cara-cara yang konyol. Keteledoran, kepanikan,
kesembronoan, kengeyelan, kesombongan, keacuhan, ketidakpedulian. Apa yang kita
anggap biasa, barangkali tidak bagi orang lain!
Pageblug
itu harus kita akui telah banyak membunuh secara langsung maupun tidak. Mereka
sudah, haruskah kita selanjutya?
.
