![]() |
Penulis: Adhi P. Hermawan (Koordiator Forum Pemuda Kreatif Brebes)
(Bagian 1)
“Dimana ada mahkluk hidup, disitu ditemukan kehendak untuk kuasa. Bahkan dalam abdi ditemukan kehendak menjadi tuan.” (Friedrich Nietzche)
Keadaan pendemi akibat virus Covid-19 kini belum kunjung usai. Telah terdengar kabar pula makhluk tak kasat mata tersebut sudah berevolusi menjadi beberapa varian, bahkan sudah banyak yang terpapar. PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat Jawa-Bali pun diberlakukan.
Virus membutuhkan inang untuk hidup, lalu si parasit ini menguasai tubuh inangnya. Yang kuat tetap bertahan hidup dan yang lemah maka mati. Virus mati maka tubuh yang tadinya menjadi tempat hidupnya menjadi sehat meski belum tentu normal sediakala. Virus dan inang memiliki kepentingan hidup yang berbeda.
Mereka sebenarnya saling membunuh. Virus terus berkembang biak, menyebar dengan serakah takdirnya. Virus tak peduli kepada siapa ia menempelkan diri. Yang pasti si covid-19 ini memiliki kehendak untuk berkuasa. Tak tahu diri, tak berterimakasih.
Awalnya menempel saja lalu melakukan pembunuhan. Manusia dan Virus adalah dua makhluk hidup yang sangat berbeda, wajar bila terjadi conflict of interest. Kecuali si virus ini dapat dikendalikan oleh manusia menjadi bermanfaat.
Baca Juga :Mengutip Nietzche, Membuka Mata
Namun sayangnya si virus ini memiliki kehendak untuk berkuasa yang sangat kuat dan tak ingin dikuasai oleh manusia, hingga ia pun akhirnya ‘menciptakan pasukan tempur’ yang lebih mengerikan lagi. Varian Delta dan Lambda. Manusia panik, keadaan menjadi kacau.
Pro dan Kontra, sudut pandang masyarakat beranekaragam menilai dan merasakan sebuah kebijakan pengendalian situasi yang diambil oleh pemerintah. Kebijakan PPKM Darurat dicacimaki, dinilai tak berpihak pada masyarakat kecil, pedagang ataupun pengusaha. Itu bagi yang kontra.
Sedangkan yang pro menganggap kebijakan tersebut sudah sepantasnya dilakukan. Dua benturan sudut pandang yang sesungguhnya sangat fundamental bila terkait permasalah ekonomi dan kemanusiaan. Ditambah pula pembatasan bahkan penutupan sementara beberapa tempat ibadah dengan alasan pencegahan penyebaran virus. Tak mudah menyamakan persepsi atau mengajak untuk sebuah kebaikan yang dinilai mampu menyelamatkan keadaan. Mereka makhluk hidup maka sudah semestinya masing memiliki kehendak untuk berkuasa.
Masyarakat yang geram, tentu merasa dirinya telah dikuasai oleh pihak yang lebih kuat sehingga mereka tidak nyaman. Mereka yang kontra ingin melakukan kegiatan usaha mencari nafkah dengan alasan penghidupan baik diri sendiri maupun keluarga atau karena merasa kepentingan diri mereka terhambat. Mereka marah, bergumam, ‘ngrasani’, namun hal itu sangat manusiawi daripada mereka tak memiliki rasa demikian dan hampa emosional, kecuali masyarakat adalah robot.
Baca Juga :Kegelisahan Warga Kota Tegal Paska Pemberlakuan PPKM Darurat
Masyarakat yang pro tentu menganggap ‘si kontra’ kebijakan tersebut sebagai kebodohan, keraskepala, tak bisa diatur atau sudutpadang lainnya yang mungkin lebih manusiawi.
Wajar dan sangat maklum dua anggapan yang berbeda tersebut. Tersirat, akibat adanya covid-19 ini sebenarnya masyarakat pmulai terbelah kembali menjadi pro dan kontra. Seperti pemilihan umum beberapa tahun lalu. Bahkan gemercik suara kebencian pada pemimpin sudah tercium kuat, baik di media sosial atau di warung kopi
.
Duka yang tak tuntas, kerinduan yang tertunda, persahabatan yang berjarak. Semua itu ada di ruang jenazah, pemakaman, kamar isolasi dan lingkungan sosial yang nyata. Dilakukan demi kebaikan, demi pemulihan situasi. Alasannya seperti itu. Wajar dan maklum karena memang keadaan sedang ‘semrawut’ akibat covid-19.
“Jika aku memiliki rasa sayang, aku tidak mau disebut penyanyang. Dan jika aku menyayangi, maka lebih baik aku lakukan dari jauh.” (Friedrich Nietzsche)
Terlepas dari makna apa yang hendak disampaikan oleh sang filsuf, sangatlah arif bila mempraktekannya untuk keadaan saat ini. Menyayangi tak harus berdekatan tetapi justru saat ini dikatakan sayang bila berjarak, guna menghindari virus.
Baca Juga :Jangan Sia-siakan Pengorbanan Selama PPKM Darurat!
Rasa cinta dan sayang pra pandemi, saat ada keluarga yang menikah, sakit atau meninggal dunia, anggota keluarga wajib hadir tetapi tidak untuk era pandemi saat ini. Semua dilakukan dari kejauhan. Tak terasa semua itu menghancurkan norma-norma yang telah mapan berabad-abad lamanya tentang jarak akan sebuah cinta dan sayang.
Bagi yang masih mempertahankan tradisi kunonya mereka berhadapan dengan petugas pembawa jenazah juga sanksi sosial. Tak apa, karena kita semua berharap keadaan ini hanya sementara saja.
