Jangan Hilangkan Keberagaman Melalui Keberagamaan

 


HARIANMERDEKA. ID-Kita sering mendengar Istilah kemanusiaan yang merupakan upaya untuk membuat manusia menjadi faktor pelaku sosial dan berbudaya serta berakal budi. Diharapkan agar sesama manusia saling menghargai, menghormati, serta saling menerima kehadiran seorang atau kelompok antara satu sama lainnya.


Terdapat Istilah dari Kata  “memanusiakan manusia” yang kerap ditujukan kepada penguasa atau pemimpin terhadap rakyatnya, hal ini muncul demi memahami kehidupan masyarakat guna menampung dan menghargai sisi kemanusiaan yang mana didalamnya terdapat pengakuan atas eksistensi kemanusiaan untuk tujuan suatu pelayanan.


Pengetahuan tentang kemanusiaan yang dipahami sebagai ilmu kemanusiaan, antara lain terdiri atas ilmu bahasa, komunikasi, sosiologi, agama, dan ketatanegaraan yang sangat memiliki peran penting bagi makna dan tujuan dari kemanusiaan, serta aspek keilmuan lain yang menunjang di dalamnya termasuk ilmu ekonomi, hukum, politik, psikologi, agama, dan lain sebagainya.


Bahkan pengertian kemanusiaan yang tertuang didalam Pancasila, juga menekankan pentingnya makna kemanusiaan. Sebagaimana sila ke dua yang menyebutkan kemanusiaan yang adil dan beradab, mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia memperlakukan harkat kemanusiaan itu yang harus sesuai dengan martabat dan fitrahnya selaku ciptaan tuhan.


Kedudukan sila kedua tersebut memberikan kesan bahwa bangsa Indonesia memiliki derajat dan hak yg sama, serta berkewajiban yang sama pula sebagai warga negara yang merupakan sesama penganut agama, suku, ras untuk hidup pada iklim demokrasi sesuai aturan dan perundang undangan yang berlaku di NKRI ini.


Tentu saja hal ini menjadi modal bahwa harkat kemanusiaan bangsa Indonesia menjadi sisi yang tidak kalah penting guna menjadikan bangsa Indonesia tampil sebagai pejuang harkat kemanusiaan dan kebangsaan serta tetap saling menghargai terhadap bangsa-bangsa lain didunia,  yang mana hal itu memang sepatutnya untuk terus dipertahankan oleh generasi muda saat ini.


Namun disayangkan bahwa terdapat sisi ruang keberagama-an yang sengaja dibenturkan kepada harkat kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam hidup keberagaman itu sendiri. Bahkan dalam praktiknya tidak jarang sebagian orang mengatasnamakan agama untuk membenarkan dan melegitimasi tindakan yang sejatinya bersumber pemahaman agama yang keliru.


Runtuhnya keberagaman ini bisa saja terjadi akibat dari kekurangpahaman atau bahkan kesalahpahaman dalam memahami konteks agama itu sendiri. Sehingga agama dijadikan alat untuk melakukan klasifikasi golongan dan tidak lagi dipahami sebagai hal yg bersifat universal. Agama yang sejatinya hadir untuk menghargai dan mengasihi sesama manusia, kini berubah menjadi alat untuk menyerang atau menekan kelompok atau keyakinan lain yang pada akhirnya  menghancurkan kehidupan manusia.


Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan oleh benturan dari keberagama-an, maka seharusnya kita lebih mengutamakan kemanusiaan dan menemukan sumber keberagaman dari pemikiran keagamaan tersebut. Sebab, jika tidak, tentu akan menimbulkan kemudaratan yang memang tidak dikehendaki dari sumber sumber agama itu sendiri.


Apalagi dalam urusan kemanusiaan dengan segenap keberagamannya, Semua agama mengajarkan kita untuk ikut merawat kemanusiaan, maka yang akan timbul adalah budaya untuk saling menghormati dan menghargai satu dengan lainnya. Guna membentengi bahaya perpecahan bangsa, untuk saling memahami perbedaan, demi itu semua, maka diperlukan sikap toleransi yang baik, Sebab melalui Toleransi inilah generasi bangsa dapat memahami keberagaman dan keberagama-an tersebut pada akhirnya.


Toleransi adalah ajakan bagi semua agama untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara. Sebab dari sikap bertoleransilah yang akan menumbuhkan suasana hidup dengan aman, tentram, tanpa prasangka buruk terhadap sesamanya. Kepedulian, rasa cinta akan keberagaman itu diwujudkan dengan meninggikan upaya bertoleransi agar saling menghargai satu sama lain. dan sesungguhnya Toleransi bukanlah nilai baru dalam situasi budaya masyarakat kita. 



Penulis : Andi Salim