![]() |
| Penulis : Slamet Samsoerizal Penulis Ragam Teks |
HARIANMERDEKA.ID-Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mendorong satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran tatap muka 100 persen untuk mengejar ketertinggalan siswa selama masa pandemi Covid-19. Direktur Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Muhammad Hasbi,mengimbau para guru untuk mengenali kemampuan setiap siswa melalui asesmen diagnostik, karena selama masa pandemi Covid-19, peserta didik belajar berbeda-beda sehingga level kemampuannya beragam.
”Guru perlu melakukan asesmen diagnostik kepada semua peserta didik. Jadi, saat PTM, guru bisa menerapkan pembelajaran berbasis kemampuan peserta didik,” disampaikan Hasbi, melalui siaran pers, Sabtu (16/7/2022).
Tujuan Asesmen Diagnostik
Pelaksanaan asesmen diagnostik ini bagi peserta didik kelas II – VI (SD), VIII dan (IX), dan XI (SMA dan SMK) dapat dilaksanakan pada awal masuk tahun ajaran baru, bersamaan dengan MPLS. Sedangkan bagi siswa kelas I, VII, dan X dapat dilaksanakan usai giat MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Mengapa harus dilakukan asesmen diagnostik?
Tujuan pelaksanaan asesmen diagnostik adalah untuk memetakan kemampuan semua peserta didik di kelas secara cepat, mengetahui peserta didik dengan kategori: sudah paham, agak paham, dan yang belum paham terhadap materi/topik baru yang akan dipelajarinya. Dengan demikian, guru dapat menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan siswa. Disamping itu, asesmen diagnostik bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar dan mengetahui kondisi awal peserta didik atau siswa.
Asesmen diagnostik terbagi menjadi dua bagian, yaitu: asesmen diagnostik non-kognitif dan asesmen diagnosis kognitif.
Asesmen non-kognitif, bertujuan untuk mengetahui kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa, aktivitas siswa selama belajar dirumah, dan kondisi keluarga siswa. Sedangkan asesmen kognitif, bertujuan untuk mengidentifikasi capaian kompetensi peserta didik, menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rerata siswa, memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan pada siswa yang nilainya di bawah rerata.
Teknis Asesmen Diagnostik
Asesmen diagnostik non-kognitif di awal pembelajaran dilakukan untuk menggali
kesejahteraan psikologis dan sosial emosi sisiwa, aktivitas siswa selama belajar di rumah, kondisi keluarga dan pergaulan siswa, dan gaya belajar, karakter, serta minat siswa. Tahapan yang dilakukan pada asesmen diagnostik non-kognitif meliputi: persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.
Hal-hal yang dapat dilakukan pada tahap persiapan adalah menyiapkan alat bantu berupa gambar-gambar yang mewakili ikon emosi (senang, suka, dsb). Selain itu menyiapkan sejumlah daftar pertanyaan kunci mengenai aktivitas siswa.
Selanjutnya pada tahap persiapan, meminta peserta didik mengekspresikan perasaannya selama belajar di rumah serta menjelaskan aktivitasnya. Jawaban dari siswa peserta didik dapat berupa meceritakan, menggambar, dan menulis.
Pada tahap tindak lanjut, identifikasi peserta didik dengan ekspresi emosi negatif dan ajak berdiskusi, menentukan tindak lanjut dan mengomunikasikan dengan peserta didik dan orang tua bila diperlukan.
Asesmen diagnostik kognitif dapat dilaksanakan secara rutin yang disebut asesmen
diagnostik kognitif berkala, pada awal pembelajaran, akhir setelah guru selesai menjelaskan dan membahas topik, dan waktu lain. Asesmen Diagnostik bisa berupa Asesmen Formatif maupun Asesmen Sumatif.
Tahapan pelaksanaan asesmen diagnostik kognitif meliputi: persiapan, pelaksanaan, diagnosis dan tindak lanjut.
Seperti biasa, pada tahap persiapan guru dapat menyiapkan jadwal pelaksanaan asesmen diagnostik. Selain itu, mengidentifikasi materi asesmen berdasarkan Kurikulum (misalnya, Kurikulum Merdeka).
Asesmen diagnostik, selain penting dilakukan pada awal tahun ajaran baru, perlu pula dilakukan secara berkala setiap bulan. Mengapa? Sebab, hasil asesmen berguna untuk melakukan adaptasi materi pembelajaran sesuai tingkat kemampuan siswa kelas yang diajarnya. Asesmen diagnosis berkala ini harus dilakukan di setiap kelas untuk semua jenjang pendidikan.
