Ada suara "Sayang....." di Gedung Parlemen

 



Penulis :Drs. Sakhroji, M. Pd*)


HARIANMERDEKA. ID-Suara  "sayang", belum lama ini menjadi bahan perbincangan orang baik di media online maupun offline. Pasalnya ketika sedang berlangsung sidang antara  Komisi III DPR RI bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Rabu, 24 Agustus 2022 tiba-tiba muncul suara “sayang....” di tengah tengah rapat. 


Suara “sayang” itu mesra dan manja yang disampaikan seorang perempuan di seberang telepon sana. Tampaknya ada seseorang yang ingin menghubungi anggota dewan, :namun dia tidak tahu kalau yang dihubungi sedang rapat. 


Sontak saja mendengar suara "sayang" pada saat sidang berlangsung membuat suasana sidang menjadi gaduh karena peserta sidang yang hadir tidak fokus, mereka bingung dan tertawa. Tertawanya mereka karena lucu atau ingin mentertawakan orang yang menelepon atau yang ditelepon. 


Terlepas suara itu lucu atau tidak, permasalahannya adalah suara sayang itu muncul tatkala sedang berlangsungnya persidangan yang notabene formal. Jelas ini mengganggu suasana persidangan. 


Pertanyaannya adalah apakah sekelas anggota DPR tidak tahu etika persidangan? Apakah memang tidak ada rambu rambu atau kode etik persidangan di lembaga terhormat? Rasanya mustahil seorang anggota DPR tidak tahu aturan tata tertib persidangan. Mustahil pula lembaga tinggi negara tidak memiliki tata tertib persidangan. 


Sekali lagi kita tidak ada urusan dengan kata atau suara "sayang", yang menjadi pertanyaan adalah  kok bisa muncul suara "sayang" pada ponsel  yang suaranya lepas (loudspeaker) dalam persidangan itu ? 


Di musyawarah tingkat RT saja kalau ada rapat peserta rapat tahu diri, padahal yang ikut rapat boleh dikatakan pada umumnya berpendidikan rendah dan dari berbagai strata kalangan yang berbeda. Bahkan ada yang tidak tamat SD, tapi mereka bisa menghargai ketika orang lain sedang berbicara. 


Nah ini anggota dewan yang terhormat malah tidak memberikan contoh pada masyarakat kan aneh. Padahal anggota dewan umumnya berpendidikan tinggi dan minimal S1, masa kalah dengan orang yang berpendidikan rendah. 


Akhirnya orang berfikir bahwa  berpendidikan tinggi, dan mempunyai kedudukan terhormat tidak serta merta menjamin yang bersangkutan mempunyai akhlak, etika, sopan santun, adab berbanding lurus. 


Buktinya di lembaga terhormat saja masih ada orang yang tidak tahu etika, adab dan sopan santun. Dan akhirnya misteri suara "sayang" terbongkar setelah pemilik HP  mengakui bahwa suara tersebut dari HP miliknya. 


Dia menyebut telepon yang masuk itu dari keluarganya,. Demikian pengakuan yang dilakukan oleh Aboe Bakar Alhabsy dari Fraksi PKS Komisi III DPR RI. Fraksi yang notabene akan mengusung  revolusi akhlak jika partainya menang pemilu.


Bila mencermati kejadian tersebut di atas, teringat pada kata kata Gus Dur.  Pantas saja almarhum Gus Dur pernah menyamakan anggota DPR dengan Taman Kanak Kanak Setidaknya ucapan Gus Dur benar jika melihat tingkah polah anggota dewan seperti yang ditunjukkan dalam sidang tesebut di atas. 


Malah Gus Dur sempat menyesal menyamakan anggota DPR dengan TK  Hal ini pernah diungkapkan kepada Kang Maman (ulama muda) yang dekat dengan Gus Dur,:


"Saya menyesal menyamakan DPR dengan taman kanak-kanak," ungkap Gus Dur.

Kang Maman spontan menanggapi. "Kenapa? Karena itu lembaga negara ya?"

"Bukan itu, saya merasa berdosa telah meremehkan anak-anak yang suci, cerdas dan kreatif dengan anggota DPR yang kotor dan kreatif mencari celah mencari uang," jawab Gus Dur dengan lugas.(dilansir dari merdeka.com77, 13 Oktober 2020) 


Dari pernyataan Gus Dur memang benar bahwa anak anak TK lebih dapat dipercaya dari pada anggota dewan, karena anak anak lebih jujur, lebih polos, lebih lugu dan lugas dalam berbicara. Anak anak berbicara apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupi tidak ditambah dan tidak dikurangi. Apapun yang dia peroleh kalau mendapat sesuatu akan mengatakan apa adanya. 

Beda dengan anggota dewan, coba tebak, siapa yang telepon menggunakan kata "sayang...." pada anggota parlemen yang sedang sidang? Menurut pengakuan anggota dewan yang telepon adalah anggota keluarganya. 


Apakah anda yakin dari anggota keluarganya? Kalau dari anggota keluarga pasti tahu dong bapak pergi kemana? Kan bukan setahun dua tahun bekerja sebagai anggota parlemen dan pastinya sebelum berangkat pamitan dong sama keluarganya. 

Atau mungkin dari calon anggota keluarga baru yang belum tahu profesi calonnya sehingga telepon sembarang waktu? Wallahualam Bissawab


______

*) Penulis,  pengamat sosial dan pendidikan, tinggal di Jakarta