Misteri Batalnya Lagu Joko Tingkir di Istana

Penulis :Drs. Sakhroji, M. Pd




HARIANMERDEKA. ID-Perayaan 17 Agustus 2022 berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Utamanya,  dua tahun belakangan ini setelah bangsa ini dilanda COVID-19. 

Peringatan tahun ini sudah dapat dikatakan normal, karena tidak lagi dilakukan secara virtual seperti dua tahun sebelumnya.  Pelaksanaan petugas upacara pun lengkap dari mulai Inspektur sampai petugas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) sudah seperti biasa sebagaimana sebelum pandemi covid 19.
Bahkan pihak istana mengundang tamu dari masyarakat yang jumlahnya ribuan orang untuk datang menyaksikan secara langsung di Istana. 

Kalau pada tahun tahun sebelumnya, setelah selesai pelaksanaan upacara biasa ditutup dengan menyanyikan lagu-lagu nasional oleh tim paduan suara. Kali ini bukan hanya lagu lagu nasional saja yang dinyanyikan, tapi ada lagu campursari yang berirama dangdut koplo. 

Penyanyi cilik Farel Prayoga  anak kelas 6  SDN Kepundungan 2 Banyuwangi Jawa Timur diundang dan didaulat untuk menyanyi di Istana. Tidak tanggung tanggung dia bernyanyi di depan presiden dan pejabat tinggi negara lainnya. 

Dengan percaya diri Farel membawakan lagu “Ojo Dibandingke”, Farel Prayoga sukses menyanyikan lagu tersebut menghipnotis presiden dan istrinya beserta para pejabat tinggi negara dan para tamu undangan. 

Kesuksesan ini ditandai dengan presiden Jokowi dan istrinya Iriana beserta para pejabat lainnya ikut bergoyang mengikuti irawan musik yang dinyanyikan oleh Farel. 
Saking larut menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Farel,  kemudian selesai menyanyikan lagu “Ojo Dibandingke”, Farel diminta presiden untuk menyanyi lagu yang kedua, yaitu “Joko Tingkir Ngombe Dawet”. Entah kenapa, selang berapa waktu kemudian lagu yang berjudul Joko Tingkir Ngombe Dawet urung dinyanyikan. 

Hal ini tentunya menimbulkan berbagai pertanyaan baik para pejabat negara yang ada pada waktu itu, maupun para tamu undangan yang ada di Istana.
Bukan hanya mereka saja yang bertanya, kami warga masyarakat yang ikut serta menonton siaran langsung di televisi juga bertanya tanya. Mengapa lagu ke 2 yang berjudul Joko Tingkir Ngombe Dawet dibatalkan? 

Hubungan Lagu dengan Nama Joko Tingkir
Dalam sejarah babad tanah Jawi, nama Joko Tingkir bukanlah nama yang asing. Nama tersebut sudah familiar khususnya di kalangan masyarakat Jawa. 
Sewaktu masih kecil Joko Tingkir bernama Mas Karèbèt, kemudian setelah tumbuh menjadi sosok pemuda tangguh dan pemberani ia diberi nama Joko Tingkir. 

Pemberian nama Joko Tingkir tidak terlepas dari peran Nyai Ageng Tingkir janda dari Ki Ageng Tingkir. Beliau yang mengasuh Mas Karebet setelah kedua orang tuanya meninggal. 

Hubungan keluarga Ki Ageng Tingkir dengan keluarga ayah Mas Karebet sangat dekat karena masih ada pertalian saudara. itulah sebabnya Mas Karebet kemudian di asuh oleh Nyai Ageng Tingkir. Beliau pula yang memberi nama  Mas Karebet menjadi Joko Tingkir.
Sejak itulah Mas Karebet namanya berubah menjadi Joko Tingkir. Kata "Tingkir" sendiri diambil dari nama suatu daerah yang ada di wilayah Jawa Tengah. 

Joko Tingkir Mejadi Sultan Pajang

Setelah cukup dewasa Joko Tingkir pergi ke Demak untuk mengabdi di Kerajaan. Sesampainya di Demak, Jaka Tingkir tinggal di rumah pamannya Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur.

Singkat cerita setelah melalui proses yang panjang akhirnya Joko Tingkir diangkat menjadi lurah wiratamtama.yang  bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Di kerajaan Demak prestasi Joko Tingkir sangat cemerlang sehingga ia diangkat  sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Hadiwijaya. 

Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, di  Demak terjadi huru hara, pasalnya Sultan Prawoto yang seharusnya naik takhta, tewas dibunuh Arya Penangsang  (sepupunya di Jipang)

Namun,  akhirnya Arya Penangsang pun tewas dibunuh oleh Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan). Setelah peristiwa tersebut, Pusat kerajaan Demak kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai raja pertama. 

Dengan demikian, Joko Tingkir adalah pendiri sekaligus raja atau sultan pertama dari kerajaan Pajang. Ia memerintah dari tahun ((568 - 1582) dengan nama Sultan Hadiwijaya.  Wikipedia

Joko Tingkir merupakan murid langsung dari Sunan Kalijaga wali Songo yang sangat kondang di kalangan masyarakat Jawa, oleh karena itu Joko Tingkir bukanlah orang sembarangan, beliau adalah waliyullah yang disegani dan dihormati dikalangan para alim ulama yang ada di Tanah Jawa. 

Oleh sebab itulah, Ulama PBNU KH. Ahmad Muwafiq atau sering dikenal Gus Muwafiq mengecam pencipta lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet”  yang dinilai melecehkan tokoh ulama dan raja Jawa Joko Tingkir. Ia tersinggung dan marah kalau Joko Tingkir dibuat lagu guyonan dangdut koplo. 

Ia pun meminta Banser mengingatkan jika ada orang yang menyanyikan lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet.” Bahkan jika perlu, saat pengajian jika ada orang menyanyikan itu, Banser bisa menyuruhnya turun dari panggung karena tidak ada penghormatan terhadap ulama dan raja Jawa terdahulu (Suarapurwokerto, Rabu, 17 Agustus 2022) 

Intinya jika lagu tersebut dinyanyikan dapat menyinggung dan melukai hati dan perasaan keturunan keluarga Joko Tingkir. Atas dasar itulah, kemudian ada yang membisikkan kepada Presiden untuk membatalkan lagu yang berjudul Joko Tingkir Ngombe Dawet. 

Joko Widodo selaku Presiden tentu tidak ingin menyinggung  perasaan rakyat Indonesia pada umumnya dan keluarga keturunan Joko Tingkir pada khususnya. Alasan tersebut bisa ya bisa tidak, yang lebih tahu hal ini adalah Presiden Joko Widodo dan orang  yang memberi tahu. 

Wallahualam Bissawab.


_______
*)Penulis adalah Pengamat Sosial dan Pendidikan, tinggal di Jakarta