HARIANMERDEKA. ID-Adakah yang menghalangi umat Islam untuk mendapatkan kesejahteraannya di negeri ini atau setidaknya melakukan diskriminasi ekonomi dan sosial, terlebih lagi peluang politik hingga menutup mereka untuk ikut berpartisipasi didalamnya yang menyebabkan keterbelakangan umat islam yang mengalami hidup serba kekurangan sehingga berada dibawah garis kemiskinan. Jawabannya tentu tidak ada. Sebab secara pasti siapapun yang merasa dirinya sebagai umat islam akan terpanggil dengan gagah berani untuk melawan bentuk tindakan semacam itu, termasuk jika hal itu dilakukan oleh seorang Presiden sekalipun. Inilah yang harus diyakini oleh segenap muslim Indonesia sesungguhnya.
Namun bagaimana kondisi mayoritas masyarakat islam Indonesia saat ini, apakah mereka telah sejahtera dan hidup berkecukupan serta tidak lagi terbelenggu kebodohan ditengah banyaknya intelektual islam yang justru hanya mencintai kedudukan dan jabatan hingga menumpuk kekayaan bagi diri sendiri, hal itu tak bisa dipungkiri bahwa mereka begitu mudah ditemukan disetiap penjuru tanah air ini. Walau jumlah penduduk muslim Indonesia masih pada rasio 89 persen keberadaannya, tentu saja mereka menjadi bagian terbesar dalam menduduki jabatan apapun termasuk jabatan Presiden yang seolah-olah masih diharamkan bagi golongan non muslim untuk mendudukinya. Inilah sebuah fakta, sekaligus menjadi fenomena negeri ini sesungguhnya.
Seruan pada ajakan untuk mencerdaskan sekaligus mensejahterakan umatnya justru datang dari para politikusnya yang rakus. Mereka tak segan-segan melakukan politik dua kaki, dimana satu kakinya diperuntukkan sebagai upaya mempertahankan jabatannya, di sisi yang lain mereka justru mengkambing hitamkan umat islam demi elektoral mereka agar tetap tinggi dalam meraih suara umat islam yang begitu berserak dimana-mana. Melalui janji kampanyenya, mereka mengemukakan apa saja oleh karena janji-janji yang disebutkan pada masa kampanye tersebut bukanlah suatu pelanggaran pidana sekiranya diabaikan setelah mereka terpilih nantinya. Inilah bentuk upaya eksploitasi umat islam yang nyata ditengah masyarakat kita sekarang.
Adanya ajakan untuk mendorong masyarakat agar mengusung penerapan sistem Khilafah yang ditawarkan seolah-olah menjadi solusi bagi sulitnya mengentaskan kemiskinan masyarakat islam saat ini. Sehingga Pancasila dianggap mereka sebagai sistem yang pantas digantikan bagi fakta terpuruknya generasi islam Indonesia. Sederet nama pun muncul yang menghiasi aksi gerakan ini, bahkan tak tanggung-tanggung, beberapa organisasi islam diluar NU dan Muhammadiyah, nampak begitu kerasnya mereka mendorong upaya kearah perubahan pijakan konstitusi tersebut. Walau jumlah mereka terbilang sedikit, namun suaranya begitu lantang terdengar hingga sampai ke pelataran istana negara.
Dibalik ajaran yang sejak kecil ditanamkan kepada anak, cucu serta umat islam pada umumnya, untuk meninggalkan sifat tercela berupa hasad, dengki dan fitnah, cara itu digunakan diberbagai kesempatan dari orasi-orasi panggung atau paling tidak pada rapat-rapat internal mereka yang menyeruak keruang publik bahwa sifat-sifat yang tercela itu justru digunakan secara masif demi menciptakan pertentangan dan pembelahan ditengah masyarakat saat ini. Tentu saja golongan umat islam memahami bahwa gerakan mereka tak lebih hanya muatan politik demi menguntungkan diri mereka sendiri serta kelompoknya untuk memperdaya umat islam kembali dari sifat serakah mereka yang menginginkan sabotase kepemimpinan nasional.
Strategi utama mereka adalah membenturkan umat islam dengan golongan non muslim agar tercipta gerakan ukhwah islamiyah yang sesungguhnya ditolak oleh ormas besar islam agar tidak terjadi perpecahan ditengah masyarakat Indonesia. Hal itu sesuai pemberitaan Detiknews.com tertanggal 31/10/2018 yang menyebutkan bahwa, Pimpinan PP Muhammadiyah dan PBNU menggelar pertemuan. Mereka sepakat menjaga Indonesia dari ancaman, termasuk dari paham khilafah. Masyarakat islam pun masih bisa merasa lega, sebab sepanjang kedua ormas besar islam ini berdiri sebagai garda penjaga NKRI, maka sepanjang itulah gerakan Khilafah akan dikesampingkan.
Apalagi mereka juga melontarkan penghinaannya terhadap pemimpin negeri ini, khususnya terhadap Jokowi yang notabenenya umat islam pula, dimana faktanya terpilihnya pun termasuk dari suara kalangan umat Islam sendiri. Dimana nyata-nyata menggunakan cara-cara tercela itu untuk menghasut, menampakkan sifat kedengkiannya, serta melakukan fitnah yang sengaja dihembuskan agar publik ikut menentang segala kebijakan pemerintahan sekarang. Dibalik sejarah dari banyaknya negara-negara timur tengah yang runtuh, serta terbunuhnya Muammar khadafi akibat propaganda pihak asing terhadap masyarakat Libya. Sehingga mereka kehilangan Presidennya yang justru berdiri sebagai pembela rakyat kesejahteraan rakyat mereka sesungguhnya.
Jika gerakan mereka dibiarkan, maka tidak mustahil persepsi kearah islam semakin memiliki citra yang buruk. Sebab pada sisi lain, tokoh-tokoh islam Nusantara mengilhami gerakan mereka untuk memperlihatkan islam yang khasanah, namun disisi yang berbeda, mereka justru melakukan hal yang sebaliknya dengan mengatasnamakan agamanya pula. Oleh karenanya, umat islam jangan mudah terpengaruh pada aksi-aksi mereka semacam itu. Gerakan moral yang hasanah harus terus dikumandangkan demi menapaki nilai-nilai islam untuk dicintai bukan saja oleh para umatnya, namun dicintai juga oleh segenap persaudaraan sebangsa dan setanah air meskipun dari penganut keyakinan yang berbeda pula.
Sikap saling mengasihi dan menyayangi tidak perlu berlandaskan agama saja, melainkan sisi kemanusiaan pula tentunya. Sekiranya banyak pendapat bahwa Islamofobia dapat dimaknai secara sederhana sebagai ketakutan yang tidak logis terhadap Islam. Lantas melihat deretan fakta bahwa ada gerakan kedengkian, penghasutan serta fitnah dan ujaran kebencian yang terus menerus ditiupkan oleh kelompok tertentu, pihak mana yang tidak alergi bahkan bisa saja umat islam sendiri akan memiliki sikap yang pesimis akan keberlangsungan agamanya. Apalagi pihak lain yang kurang memahami ajaran dan suasana kebathinan umat islam sesungguhnya. Semoga ini menjadi koreksi bagi kita semua, khususnya bagi penulis sendiri.
Penulis: Andi Salim
