HARIANMERDEKA.ID-Semangat reformasi yang diperjuangkan secara serius hingga hari ini ternyata tak mampu merombak model dan watak kepemimpinan para pemimpin pemimpin sebelumnya. Pemimpin pemimpin yang lahir ternyata masih dihidupi oleh karakter autokratif, fasistik, hegemonik, dominatif, kompetitif dan penuh keserakahan.
Mereka yang memimpin di republik ini adalah yang dianggap paling kuat bertarung mengalahkan yang lain. Mereka yang mampu menundukkan mereka yang lemah tak berdaya. Pemimpin yang lahir dari nafsu berkuasa.
Reformasi yang mengandai datangnya kepemimpinan yang demokratis, penuh kepelayanan,kesederhanaan, menumbuhkan bersemangat kerjasama, tak muncul di permukaan. Tertutup oleh kabut gelap maskulinitas nan feodal.
Demokrasi diteriakkan, namun feodalisme itu ternyata justru dikeraskan dalam birokrasi dan lahirkan kekuasaan yang berwatak patrimonialis. Mengalir dari atas, dari sumbu yang satu : penguasa.
Mereka yang dipilih menjadi pemimpin tetap didasarkan pada kuasa absurd dari mereka yang punya kelimpahan harta dan uang, berketurunan penguasa, mereka yang memiliki privelege menempel karena dasar kelahiranya.
Kepemimpinan Venus yang feminis, mereka yang lahir dari upaya untuk membangkitkan visi perdamaian, intelektualitas, menghidupkan dan mempertinggi nilai kerjasama, mengedepankan perasaan kemanusiaan dan kepedulian, tertutup semua oleh hingar bingar persaingan demokrasi banal, demokrasi kasar penuh kongkalikong elit.
Semangat kepramugraian, semangat kepelayanan yang tegas tanpa kompromi terhadap peraturan diinjak injak dan dilanggar. Hukum dijadikan landasan bagi rompi pengaman kepentingan kongkalikong untuk perkaya diri dan selamatkan kekuasaan.
Semangat demokrasi yang semestinya lahirkan pemimpin "the first among equal", mereka yang lahir dari yang sama tak muncul. Mereka diganyang mentah oleh model pemimpin narsistik, populis dan sakit jiwa, gila kekuasaan.
Memang, bagi bangsa yang baru terlepas dari penjajahan dan hegemoni fasisme itu akan lahirkan sebuah euforia, kegembiraan atas kebebasan. Tapi semangat kebebasan itu segera ditebas habis oleh kekuatan oligarki dan plutokrasi. Kuasa elite politik dan elit kaya. Kekuasaan materi yang ditinggikan melampaui visi kebangsaan dan kenegaraan. Kuasa yang melebihi aspirasi dan kuasa sejati republik ini. Kekuasaan rakyat, daulat rakyat.
Jakarta, 21 Oktober 2023
Suroto
