Nadirsyah Hosen: Banjir Bukan Azab, Tapi Alarm Kelalaian Manusia

Cendekiawan muslim Nadirsyah Hosen

HARIANMERDEKA.ID, Jakarta– Cendekiawan muslim Nadirsyah Hosen menyoroti bencana banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatra. Melalui akun media sosialnya pribadinya , ia menegaskan bahwa bencana semacam ini tidak bisa lagi dianggap sebagai musibah semata, apalagi dikaitkan sebagai azab bagi para korban. Senin (01/12).


Menurutnya, kerusakan lingkungan dan kelalaian manusia justru menjadi faktor terbesar yang membuat banjir berulang dan menimbulkan korban besar. “Alam punya siklusnya. Tapi ratusan korban hanya terjadi ketika manusia ikut merusak keseimbangan,” ujarnya.


Nadirsyah menguraikan lima langkah yang harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak terus terjebak dalam siklus bencana.


Pertama, ia menekankan pentingnya penegakan tata ruang yang konsisten. Rumah tidak boleh didirikan di bantaran sungai, lereng curam, atau kawasan rawan banjir. Jika terlanjur, relokasi harus dilakukan secara adil demi keselamatan jangka panjang.


Kedua, perlindungan hutan harus menjadi kebijakan yang tak bisa dinegosiasi. Selama daerah tangkapan air rusak, banjir bandang hanya menunggu waktu. Reboisasi dan pengawasan hukum disebut harus berjalan tegas tanpa celah “izin khusus”.


Ketiga, sistem peringatan dini dan infrastruktur mitigasi seperti check dam, kolam retensi, hingga jalur evakuasi harus dibangun dengan standar yang benar, bukan sekadar proyek formalitas.


Keempat, ia menilai literasi bencana perlu diajarkan sejak dini di sekolah. Contohnya Jepang, yang berhasil meminimalkan korban karena masyarakatnya terlatih menghadapi situasi darurat.


Kelima, pemerintahan bersih menjadi fondasi utama. Jika perizinan lingkungan bisa dibeli dan proyek mitigasi rawan korupsi, maka setiap musim hujan masyarakat hanya menunggu bencana berikutnya.


Lebih jauh, Nadirsyah mengingatkan agar publik tidak mudah mengaitkan bencana sebagai hukuman dari Tuhan. “Apakah kita tega menyalahkan para korban seolah mereka terkena azab?” tulisnya.


Ia menegaskan bahwa anggapan fatalistik justru membuat upaya mitigasi terabaikan.


“Alam memberi isyarat atas kelalaian kita. Tapi kasih Allah jauh lebih besar daripada murka-Nya,” tutupnya.