Purbaya Yudhi Sadewa: Ekonomi Nasional Berbalik Arah, Fondasi 2026 Mulai Menguat


Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa


HARIANMERDEKA.ID, Jakarta — Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan perekonomian Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang konsisten menjelang akhir 2025. Setelah sempat melambat sepanjang sebagian besar tahun, arah ekonomi nasional kini dinilai telah mengalami pembalikan yang cukup jelas.


Dalam wawancara bersama Elshinta News and Talk, Sabtu (20/12), Purbaya menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada kekuatan permintaan domestik, yang kontribusinya mencapai sekitar 90 persen terhadap pertumbuhan nasional.


Menurutnya, gejolak global tidak akan terlalu mengguncang perekonomian dalam negeri selama daya beli masyarakat tetap terjaga, belanja pemerintah berjalan efektif, serta kebijakan fiskal dan moneter bergerak selaras.


“Selama konsumsi rumah tangga kuat dan belanja pemerintah tepat sasaran, ekonomi Indonesia seharusnya tetap stabil meskipun situasi global tidak menentu,” ujarnya.


Purbaya mengakui bahwa perlambatan ekonomi pada sembilan bulan pertama 2025 sempat menimbulkan tekanan, termasuk dampak sosial. Namun, sejak September, tren pemulihan mulai terlihat secara bertahap hingga akhir tahun.


“Sejak pertengahan September hingga Desember, kondisinya terus membaik. Memang belum kencang, tapi arah perbaikannya sudah sangat jelas,” kata Purbaya.


Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 mampu menembus level di atas 5,5 persen, meningkat dibanding triwulan III yang berada di kisaran 5,12 persen. Salah satu faktor pendorongnya adalah tambahan likuiditas ke sistem keuangan sebesar Rp200 triliun yang diharapkan memperkuat perbankan dan mendorong aktivitas ekonomi.


Meski demikian, Purbaya mengingatkan bahwa efek kebijakan tersebut belum sepenuhnya terasa karena masih ada perbankan yang memilih menempatkan dana kembali ke bank sentral, alih-alih menyalurkannya ke sektor riil.


“Kami tidak ingin likuiditas berhenti di sistem keuangan saja. Bersama BI dan OJK, kami dorong agar dana itu benar-benar sampai ke masyarakat dan dunia usaha,” tegasnya.


Di sisi lain, Kementerian Keuangan juga menaruh perhatian serius pada kinerja pemerintah daerah. Purbaya menegaskan bahwa daerah yang lambat menyerap anggaran, apalagi disertai indikasi penyimpangan, akan menjadi fokus evaluasi.


“Kalau keterlambatan karena masalah teknis dan belanjanya bersih, masih bisa dimaklumi. Tapi kalau ada indikasi main-main, itu akan terlihat dan pasti kami tindak,” ujarnya.


Untuk menjaga stabilitas ke depan, pemerintah memperketat koordinasi fiskal dan moneter guna memastikan likuiditas tidak mengalir ke aktivitas spekulatif, termasuk pembelian valuta asing yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah.


Dengan disiplin kebijakan dan pengawasan yang lebih ketat, Purbaya optimistis fondasi ekonomi nasional menuju 2026 berada pada jalur yang cukup kuat.


“Pertahanannya sudah kita perkuat. Kalau kebijakan dijalankan konsisten, pergerakan ekonomi domestik akan semakin cepat,” pungkasnya.(***).