HARIANMERDEKA.ID, Jakarta — Lawyer dan Analis Politik Saiful Huda Ems (SHE) menilai situasi geopolitik global saat ini semakin mengkhawatirkan dan berpotensi mengarah pada pecahnya Perang Dunia III. Penilaian tersebut disampaikan SHE dalam catatan tertulis yang diterima redaksi pada Senin (12/01).
Menurut SHE, kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump menunjukkan kecenderungan agresif yang dapat memicu konflik berskala internasional. Salah satu isu krusial adalah rencana Amerika Serikat untuk mengambil alih Pulau Greenland milik Denmark dengan dalih mencegah pengaruh Rusia dan China di kawasan strategis tersebut.
“Langkah Amerika Serikat terhadap Greenland bukan hanya melanggar kedaulatan Denmark, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan politik dan militer di kawasan Eropa,” ujar SHE.
Ia menjelaskan, Denmark menyadari ancaman tersebut dengan mulai memperkuat sistem pertahanan di Greenland menggunakan persenjataan modern. Langkah ini, kata SHE, menunjukkan bahwa sekutu Amerika di Eropa pun mulai bersikap defensif terhadap kebijakan Washington.
Tak hanya itu, SHE juga menyoroti tindakan Amerika Serikat yang disebut telah menculik Presiden Venezuela beserta istrinya. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara lain dan menunjukkan menurunnya komitmen Amerika Serikat terhadap hukum internasional.
Selain Venezuela, Rusia juga menjadi pihak yang dirugikan. SHE mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia di perairan internasional barat laut Skotlandia. Tindakan tersebut menuai kecaman keras dari pemerintah Rusia yang menilai penyitaan itu melanggar hukum maritim internasional dan berpotensi memicu krisis global.
“Respons Rusia sangat tegas, termasuk dengan mengerahkan pesawat tempur yang terbang rendah di sekitar kapal-kapal Amerika,” jelasnya.
China, lanjut SHE, juga mengambil langkah serupa dengan mengawal ketat kapal-kapal tanker minyaknya menggunakan kekuatan udara. Hal ini membuat Amerika Serikat berpikir ulang untuk melakukan penyitaan terhadap kapal-kapal China yang mengangkut minyak dari Venezuela.
SHE menilai, kondisi tersebut semakin diperparah oleh ketidakharmonisan di tubuh NATO. Menurutnya, aliansi pertahanan itu tidak lagi sepenuhnya solid mendukung Amerika Serikat, sehingga membuka kemungkinan Amerika menghadapi tekanan global tanpa dukungan penuh sekutunya.
“Jika NATO mengambil sikap independen demi menjaga stabilitas kawasan Eropa, maka bukan tidak mungkin Amerika Serikat akan berada dalam posisi terisolasi,” katanya.
Namun demikian, SHE menilai peluang NATO untuk bersekutu dengan Rusia dan China masih sangat kecil, terutama karena konflik Ukraina-Rusia yang hingga kini belum menemukan titik temu. Ia menegaskan bahwa satu kesalahan militer saja, seperti serangan Rusia ke wilayah negara NATO, dapat memicu perang terbuka antar kekuatan besar.
Ia juga menyoroti kesiapsiagaan negara-negara Eropa yang mulai melakukan latihan perlindungan sipil dan sistem peringatan dini, seperti yang terjadi di Belanda, sebagai sinyal bahwa ancaman perang besar tidak lagi dianggap mustahil.
Dalam catatannya, SHE menyebut Jerman, khususnya Berlin, berpotensi kembali menjadi pusat dinamika global jika perang besar pecah, mengingat sejarah Perang Dunia I dan II yang tak lepas dari kawasan tersebut.
“Jerman adalah pusat lahirnya ide-ide besar dan gerakan revolusioner dunia. Jejak sejarah perang dunia masih kuat, dan itu menjadikan Eropa, khususnya Jerman, sangat sensitif terhadap eskalasi konflik global,” pungkasnya.
