HARIANMERDEKA.ID|Kami terhubung sebagai kakak kelas dan adik kelas di
Marsudirini. Sebuah perguruan yang punya nama Katolik SD Materdei, yang
belakangan baru saya tahu artinya Maria Bunda Allah. Kami sering nongkrong di
depan kantin yang ada di aula sekolah, duduk-duduk
di atas gulungan babud. Babud itu matras untuk gulung-gulung
latihan senam yang terbuat dari sabut kelapa yang dianyam sangat lebar dan
cukup tebal. Dia bagi saya adalah seorang big boss, yang selalu
"njanjakne", mentraktir saya jajan pas jam istirahat. Sebagai anak
seorang seniman kondang, tentu saja sangu-nya selalu banyak. Entah kenapa, saya
kok yang selalu dijajakne. Hanya sekedar es kelapa atau sebungkus bakmi yang
kala itu harganya Rp. 5,-. Sekira tahun 1977, sangu Rp 25,- itu sudah mewah
banget. Entah bagaimana ceritanya, kebetulan saya sekelas (sebangku lagi)
dengan Petra yang kelak menjadi istri Mas Djaduk. Petra di luar anak yang
berprestasi secara akademis, memang sejak muda dikenal memiliki suara emas.
Mereka dipertemukan belasan tahun kemudian, ketika menjadi anggota kontingen
seni saat melawat ke Korea Selatan.
Saya
bertemu lagi, secara tak sengaja saat pertunjukan Gandrik di Teater Arena TIM
Jakarta, sekira awal tahun 1990-an. Niat saya sesungguhnya menemui Mbah
Kartono, sebagai sesama orang Jagalan Beji yang kenal saya sejak bayi. Mbah
Kartono sendiri adalah teman sekaligus "musuh bebuyutan" dari Mbah
Kakung saya. Walau sama-sama meminati seni, Mbah Kakung saya yang dulunya penampung S.
Bagio, saat pertama kali hijrah dari Banyumas ke Jogja. Namun secara
popularitas kalah moncer dari Mbah Kartono (alm). Yang setelah aktif di Teater
Jeprik-nya Mas Noor WA, kemudian turut diangkut oleh anak ideologisnya yang
kemudian mencomot gaya sampakannya: Teater Gandrik. Pertemuan segitiga itulah,
yang belakangan membuat Mas Djadug selalu menyebut saya sebagai "Cah
mBeji". Kampung yang selalu saya anggap model komunitas warga dengan
fasilitas seni budaya yang nyaris sempurna pada masanya. Di kampung ini pernah
ada Kantor Harian Bernas, ada percetakan Liberty, punya radio Rasia Lima, punya
bioskop Permata. Grup teater, ketoprak, keroncong, seriosa, apa pun ada berikut
tokoh-tokoh besarnya. Sedikit menghapus stigma
buruk, bahwa sebelum tahun 1965, kampung kami jadi sarang dan kantor partai
paria yang bernama PKI.
Dalam
konteks kerja-budaya, saya bertemu lagi dengan mas Djaduk saat diajak mas Linus
Suryad AG, menyelenggarakan acara "Pak Kayam Pamit Pensiun" di tahun
1997. Tentu saja, ia menjadi penata musik dengan ikon Kursi Goyang-nya Pak
Ageng. Saya sering berpikir bahwa dari event inilah, kakaknya Butet
Kertaredjasa mulai merintis karir sebagai pembaca monolog, sehingga hingga hari
ini statusnya sebagai raja yang tak tergoyahkan. Setelahnya saya hanya menjadi
penonton bagi pertunjukan karya2nya. Apakah itu dalam wadah grup musik Sinten
Remen, Kuaetnika, atau event tahunan yang diinisiasinya seperti Ngayogyajazz
atau Kerocongan Kotagede. Walau setahu saya, ia memiliki gelar RM (Raden Mas)
sebagai keluarga yang masih terhitung cicit dari Sri Sultan HB kesekian (saya
lupa, mungkin ke tujuh). Namun belakangan, dia sudah jadi Raden Ngabehi (R.Ng),
karena beragamnya pekerjaan yang dilakukannya. Statusnya yang selain dari
pemusik, penata musik, juga produser dan pemilik studo rekaman. Juga masih jadi
sutradara teater, aktor, dan bahkan tour leader. Sehingga walau sudah cukup
lama didiagnosa sakit jantung, ia mengabaikannya. Hingga serangan mendadak
semalam, membuatnya harus berhenti.
Wis mas
sugeng tindak, sesuk yen ketemu nang swarga. Sebagai senior tanggungjawabmu
njajakne meneh.
