GMNI Berharap Program BUMN tidak hanya Sasar Pesantren

Sujahri Somar (Sekjen DPP GMNI)


HARIANMERDEKA.ID, Jakarta,-
Terkait dengan program pemberdayaan ekonomi pesantren oleh Menteri BUMN di sejumlah Pesantren, DPP GMNI menilai positif, hanya saja perlu lebih komprehensif, agar tak hanya berpusat pada lingkup Pesantren saja tetapi juga ke Yayasan Kotolik Protestan dan Yayasan lainnya.


Menurut Sujahri, Sekjen DPP GMNI, BUMN sudah megantongi data-data mengenai keberadaan Sekolah Berasrama, selain Pesantren yang jumlahnya sekitar 26.900an, tersebar dari Aceh hingga Papua. Sekolah Berasrama ini juga berpotensi untuk digagas kemandiriannya, apalagi Sekolah Berasrama yang dimaksud di sini bukan milik Negeri, melainkan Swadaya atau Yayasan Kecil. 


"Untuk menyasar wilayah ini, diperlukan pemutakhiran data antara BUMN dan Kemendikbud. Memang arah Pendidikan Nasional kita seperti yang digambarkan oleh Ki Hajar, bersistem asrama, itu jelas dalam tulisan-tulisan beliau berjudul 'Pendidikan'. Ki Hajar di situ mencontohkan Pesantren, itu artinya Sekolah Berasrama sebenarnya adalah terminologi lain dari Pondok Pesantren", papar Sujahri.


Dalam perkembangannya, Sekolah Berasrama memang lebih banyak dikemas oleh Yayasan Katolik, tapi saat ini, ada juga Sekolah Berasrama milik Pemerintah, juga Yayasan Islam. Dari 10 Sekolah Berasrama terbaik, terdapat Internasional Islamic Boarding School Bekasi, Pangudi Luhur Vanlith, dan Santa Maria Jakarta.


Dari situ jelas, sujahri menilai bahwa konsepsi Pendidikan Nasional memang berdasar pada sistem Pondok Pensantren, dengan tetap mengacu pada kemandirian, sebagaimana Ki Hajar memandirikan Taman Siswa. 


"Jadi, Menteri BUMN sekiranya perlu memahami dengan benar ide kemandirian ekonomi dalam tingkat Sekolah, baik untuk klaster Pondok Pesantren maupun Sekolah Berasrama. Karena pada hakekatnya, Sekolah Berasrama itu ruhnya berangkat dari sistem Pondok Pesantren", Imbuh Sujahri.


Jika program BUMN hanya fokus untuk kemandirian Pondok Pesantren saja, Sujahri menilai Menteri BUMN "cari muka" dengan Dunia Pesantren. 


Kemudian, sujahri menjelaskan bahwa, antara sistem Pondok Pesantren dan sistem Sekolah Berasrama tidak boleh dipilah kalau tidak mau dicap sekuler, karena gagasan Pendidikan Nasional seyogyanya mengarah pada model Pondok Pesantren, tujuannya agar injeksi ideologis lebih terarah. Maka sekolah Berasrama baik Islam, Kristen, atau Agama Apapun, atau Sekolah Berasrama konsep Non teologis perlu diperhatikan secara menyeluruh.

0 Komentar

Posting Komentar