Budaya dan Agama Bukanlah Hal yang Sepatutnya Dipertentangkan

 

Penulis : Andi Salim



HARIANMERDEKA. ID-Banyak pihak yang bingung bagaimana cara menangkal isu kandungan dari dua variabel kebenaran yang sengaja dibenturkan, tanpa melihat objektifitas dimana kebenaran itu harus didudukkan untuk ditempatkan sebagai kebenaran hakiki sehingga segalanya menuju kepada kemaslahatan umat. 


Nilai kebenaran tentu harus diuji pada sisi mana kebenaran itu lebih tinggi derajatnya serta lebih luas pada kandungan kebaikannya, tentu pendapat dan pandangan mengenai hal ini dituangkan pada rentang vertikal dan horizontal dalam pengungkapannya.


Sehingga negri kita yang belum membelah dan membedah dimana suatu agama itu dapat berkembang, serta dimana pula wilayah budaya bangsa itu memiliki otorisasi yang tidak boleh dicampuri oleh urusan agama sekalipun. 


Sebab beragama merupakan pilihan bagi masyarakat, apakah mereka bersedia memilih agama yang telah disediakan ataukah oleh negara, atau malah lebih memilih menjadi atheis sekalipun terdapat beberapa pilihan yang dimungkinkan.


Dimana todak ada yang dapat memaksakan keyakinan apa yang seharusnya dipeluk, hal itu bersifat privasi dan sekaligus menjadi hak azasi manusia. Bahkan dalam konteks bagi para pemeluk keyakinan atau agama tertentu, manusia atau seseorang pun masih dipersilahkan untuk memilih, apakah dirinya menghendaki jalan ke neraka atau ke surga sebagai destinasi akhirnya. 


Walau bagaimana pun tugas agama itu hanya sebatas memberikan petunjuk dari apa yang sepatutnya diketahui oleh umat manusia. Maka meskipun petunjuk itu datang, akan tetapi jika manusianya tidak menjalankan perintah agama sebagaimana pemahaman petunjuk yang telah diterimanya, maka sudah barang tentu ia akan ke neraka juga pada akhirnya. 


Namun bukan disana sebenarnya letak persoalan yang akan menjadi titik fokus penulisan ini, kita semua sering selalu fokus pada bagaimana mencapai goals yang di inginkan. Sehingga acapkali lebih mengutamakan segalanya pada tujuan akhirnya saja, tanpa melihat bagaimana proses mencapai goals itu sendiri. 


Diumpamakan seperti menjalankan suatu usaha, kita sering hanya memfokuskan diri untuk bagaimana memperoleh keuntungan saja, bukan pada proses bagaimana untung itu diperoleh secara baik dan bersifat kontinyu yang bisa diperoleh secara terus menerus.


Maka walau dalam cara dan strategynya, seseorang justru malah menabrak nilai-nilai kebaikan dan kepatutan dalam menggapainya, hal itu tetap saja diterjang untuk mencapai goals akhir yaitu keuntungan. Sama halnya ketika seseorang hanya fokus untuk menujukan segala sesuatunya kepada tuhan semata. 


Padahal sudah dijelaskan bahwa kebaikan seseorang itu dilihat dari bagaimana dia berhubungan baik pada antar sesamanya, akan tetapi hal itu malah dianggap menjadi kurang penting dari pada memperdulikan hubungan terhadap tuhan itu sendiri.


Maka demi keyakinan itu, seseorang akan menafikan kemanusiaannya untuk memfokuskan segala perbuatannya yang hanya ditujukan kepada tuhan semata. Dengan kata lain tidak lagi perduli kepada antar sesama manusia yang merupakan seruan tuhannya. 


Terdapat sebuah karya tulisan dari Habib Ali al-Jufri  yang pernah menulis sebuah buku berjudul al-Insaniyyah qabl at-Tadayyun (kemanusiaan sebelum keberagama-an). Dimana inti pada penulisannya yang berisikan pemahaman dalam menjelaskan bahwa agama dan kemanusiaan merupakan unsur yang sejalan, mengingat misi utama agama adalah kemanusiaan itu sendiri. 


Dengan demikian, keberagama-an ini berkaitan erat dengan interpretasi atau pemahaman seseorang terhadap ajaran-ajaran agama yang tertuang dalam kitab suci. Oleh karenanya, kita memerlukan pemahaman dan moderasi beragama yang merupakan cara pandang dalam suatu ajaran agama secara moderat yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama itu dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan (diartikan sebagai pemahaman agama yang sangat kaku) maupun ekstrem kiri (diartikan sebagai pemahaman agama yang sangat liberal).


Menteri Agama RI tahun 2018, Lukman Hakim Saifuddin pernah menyatakan bahwa agama dan budaya di Indonesia tidak semestinya saling menghancurkan satu sama lain. Menurut Lukman, keduanya telah memiliki sejarah panjang dalam pembentukan jati diri bangsa Indonesia sehingga tidak perlu dipertentangkan. 


Menteri Agama saat ini Yaqut Cholil Qoumas pun telah menerbitkan surat edaran yang mengatur penggunaan pengeras suara atau toa di masjid dan mushala. Pada aturan ini terdapat hal yang diterbitkan salah satunya untuk meningkatkan ketentraman, ketertiban, dan keharmonisan antar warga. Adapun aturan ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushala.


Pengeras suara itu sesungguhnya bukan bagian dari sunnah yang dapat mendatangkan pahala bagi siapa pun yang menggunakannya. Tidak semua yang dimaksudkan baik itu sudah tentu benar, begitu pula sebaliknya, tidak semua kebenaran itu seiring pada kebaikan bagi seseorang. 


Walau secara hakekat hal itu mungkin saja terjadi dan memiliki pengertian yang sama. Sebab dijaman nabi Muhammad saw sendiri, tidak ada pengeras suara, jadi hal itu pun bukan bagian dari pada sunnahnya yang tentunya tidak berdampak pada pahala jika mengerjakannya dan tidak pula berdosa jika meninggalkannya.


Disadari bahwa agama merupakan segala sesuatu yang didapat atau bersumber dari Tuhan, sedangkan kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan atau produk (cipta, rasa, karsa) dari manusia. Meskipun berbeda, agama dan kebudayaan tetaplah berkaitan dan memiliki relasi yang kuat bagi kehidupan sosial kemanusiaan. 


Upaya untuk tidak menghadap-hadapkannya, atau mempertentangkan antara budaya dan agama adalah bagian dari kemaslahatan. Toh jika budaya itu haram, Wali songo tentu lebih memahami akan situasi ini sejak dahulu kala dan tidak menggunakan wayang sebagai syiar dari caranya menyebarkan agama di Nusantara kita yang tercinta.