Refleksi Women's March Day, ‘Membangun Kemitraan, Solusi untuk Mendobrak Stratifikasi Gender’

Dela Prastisia (kader GMNI Pacitan)

HARIANMERDEKA. ID,- Peringatan Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret merupakan momentum penting bagi kaum perempuan. Banyak webinar, seminar, pun kajian-kajian yang terselenggara untuk memperingati momentum ini.


Hari perempuan dapat dianalogikan sebagai sebuah notifikasi yang muncul satu tahun sekali untuk kaum perempuan sebagai pengingat bahwa wajib hukumnya bagi kaum perempuan untuk senantiasa memberdayakan dirinya dan lepas dari kata 'diperdaya'.


Tentu, ketika memperingati momentum ini topik yang paling banyak dibahas diantaranya adalah stratifikasi gender atau ketimpangan gender yang goalsnya adalah kesetaraan gender. Sebelum jauh mengulas mengenai kesetaraan gender, ada baiknya jika kita belajar untuk memetakan serta membedakan makna dari kosakata 'kesetaraan' dan 'keadilan' terlebih dahulu.


Goals yang diharapkan kaum perempuan seharusnya kesetaraan gender atau keadilan gender ? Setara berarti kedudukan pun lain halnya menjadi sama persis dengan kaum laki-laki. Sedangkan, makna dari keadilan adalah sesuai dengan porsi atau kebutuhan yang tentu disesuaikan dengan konteks dan pastinya tidak melanggar hal yang bersifat kodrati.


Saya analogikan begini, seorang ibu mempunyai dua anak, si A kelas 1 SMA dan si B kelas 1 SD. Mereka berdua hendak berangkat ke sekolah, kemudian ibunya memberi uang saku. Apakah mungkin ibu tersebut memberikan uang dengan nominal yang sama ? Ketika berbicara kemungkinan sebenarnya mungkin-mungkin saja, akan tetapi uang saku anak SD dan uang saku anak SMA seharusnya lebih banyak uang saku anak SMA sebab kebutuhan mereka lebih banyak dan jam belajarnya juga lebih lama di sekolah. Tidak sepakat ? Silakan. 


Namun, bayangkan jika kesetaraan gender benar-benar tercapai, perempuan dan laki-laki mendapatkan segala hal yang sama persis. Pertanyaannya apakah perempuan bisa konsisten dengan hal tersebut ? Begitu juga dengan laki-laki ? Apakah perempuan yakin mampu dapat mengerjakan semua segala yang dulunya menjadi pekerjaan laki-laki pun sebaliknya ?


Esensi ataupun goals yang tepat ketika membicarakan mengenai ketimpangan gender adalah soal kemitraan dan keadilan. Lebih kepada bagaimana cara perempuan dan laki-laki saling memberikan ruang, berbagi peran, tanpa melanggar aturan dan hal yang bersifat kodrat. 


Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan ini memang penuh dengan diktat dan aturan, manusia memang memiliki kebebasan namun kebebasan manusia satu juga dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain.


Peringatan hari perempuan internasional juga merupakan momentum untuk mendobrak konstruksi sosial yang bersifat membebani tidak hanya bagi perempuan namun juga bagi laki-laki. Konstruksi sosial bahwa laki-laki erat kaitannya dengan maskulinitas, rasional, pemimpin, perkasa dan lain sebagainya memang perlu untuk diluruskan. 


Bagi seorang laki-laki yang tidak serupa dengan konstruksi sosial tersebut maka akan merasa bahwa ia belum menjadi laki-laki yang seutuhnya. Begitu juga dengan perempuan, segala bentuk konstruksi sosial yang disematkan dalam diri perempuan juga sangat membebani. Perempuan tidak hanya berkutat dengan fashion, sepatu high heels, make up, pernak-pernik, dan hanya berkecimpung dengan pekerjaan yang ranahnya domestik. 


Bila perempuan memiliki keahlian mengurus anak, membersihkan rumah, dan kemampuan memasak yang lebih dari laki-laki dan laki-laki memiliki kemampuan lebih dalam mengerjakan pekerjaan yang bersifat berat maka anggaplah itu sebagai 'given' atau anugerah dari Tuhan. Namun, dalam pelaksanaannya tetap harus ada kemitraan di dalamnya. 


Kondisi dan kesempatan perempuan saat ini sudah berangsur-angsur membaik dari tahun ke tahun, terbukti dengan semakin banyaknya perempuan yang sudah berkecimpung di dunia politik, menjadi aktivis sosial, tenaga pendidik yang handal, dan profesi lainnya yang dulu tidak didapatkan oleh kaum perempuan di era Kartini.


Jika berbicara soal harapan untuk kaum perempuan di momentum peringatan hari perempuan internasional ini, perempuan diharapkan mampu untuk senantiasa memberdayakan dirinya serta lepas dari kata 'diperdaya'. 


Seperti kata bung Karno, bahwa keberadaan perempuan merupakan elemen penting dalam sebuah masyarakat. Untuk itu, mengambil peran dan memberikan kontribusi yang positif untuk masyarakat, bangsa, dan negara merupakan suatu kewajiban.


Untuk kaum perempuan, ada satu kalimat pertanyaan, "memilih bergerak atau tertinggal ?"


Penulis; Dela Prastisia (kader GMNI Pacitan)