Pelajari Islam Berkemajuan, Imam Militer Kerjaan Inggris Kunjungi PP Muhammadiyah

 

Kementerian Pertahanan Kerajaan Inggris, Imam Asim Hafiz berkunjung ke kantor pusat Muhammadiyah Senin (12/06).

HARIANMERDEKA.ID,Jakarta- Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerima kunjungan anggota Kementerian Pertahanan Kerajaan Inggris, Imam Asim Hafiz pada Senin (12/06). 

Diketahui, Imam Hasim merupakan salah satu pejabat penting di Kerajaan Inggris  menjabat sebagai Islamic Religious Advisor to Chief of the Defence Staff and Service Chiefs.

Di Inggris, Imam Hasim dikenal sebagai cendekiawan muslim sekaligus muslim pertama dan satu-satunya yang menduduki jabatan tersebut. Ini merupakan kunjungan yang kedua kalinya sejak 2017.

Dalam kunjungannya itu, Imam Hasim ditemani Kedutaan Besar Inggris, antara lain Col Paul R, Sgt Wazeeha Laher, Natasha Permatasari, dan Political Officer, Ramon Sevilla. 

Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni mengatakan, kedatangan Imam Hasim membahas terkait masalah keumatan yang terjadi di dunia global, dari pendidikan sampai soal perubahan iklim, Rabu (14/06).

Selain itu,  Imam Hasim juga berbagi pengalaman bagaimana umat muslim di Inggris merespon isu-isu sensitif. Pada konteks ini, pandangan Islam Berkemajuan Muhammadiyah cukup potensial untuk digali.

“Mereka juga ingin tahu konsep Islam Berkemajuan dan sejauh mana konsep itu relevan dengan konteks global termasuk masyarakat Inggris. Maka tadi ada kesepakatan bahwa kita akan melakukan program awal webinar antara pemikir-pemikir Muhammadiyah dan pemikir-pemikir Inggris untuk bicara isu-isu kontemporer, baru nanti dilanjutkan program-program yang lain,” ungkapnya.

Muhammadiyah sendiri dalam konteks global, kata Syafiq, sangat terbuka dan memiliki komitmen besar untuk membangun dunia yang damai dan berkeadaban sebagaimana masa keemasan Islam dahulu pernah melakukannya. Apa yang disampaikan oleh Imam Hasim menurutnya menjadi perhatian Muhammadiyah.

“Kita ini kan bagian dari masyarakat dunia, jadi kita perlu bekerjasama di dalam banyak hal untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia di dunia ini sehingga kita tidakk berpikir ekslusif untuk bangsa kita, tapi kita juga berpikir untuk masyarakat internasional,” tegasnya.