Pertarungan Spiritual Kadir dan Kadrun




HARIANMERDEKA.ID-Kadir, begitu orang-orang sekampungnya memanggil namanya. Karakternya sekilas nampak cuek, seperti tidak tau adab atau sopan santun. Kalau ada ceramah agama dari corong-corong speaker tempat ibadah yang suaranya keras, ia tak mau mendengarnya, bahkan kadang malah asyik mendengar musik sendiri di ruang kerjanya.

Pantas saja tetangga-tetangganya menganggap Kadir sebagai lelaki bandel. Namun siapa sangka kalau Kadir ini mempunyai kegemaran membaca dan menulis, yang tulisannya selalu dibaca oleh para mahasiswa hingga pejabat tinggi negara.

Berbeda lagi dengan yang namanya Kadrun. Orang ini sepintas terlihat soleh, nyaris tak pernah meninggalkan ibadah ritual. Kalau berbicara bahasa arabnya sangat fasih, dan seperti hafal ayat-ayat suci. Kalau sudah berada di atas mimbar, Kadrun suka ceramah panjang lebar, hingga terlihat sekali kebiasaan baca kitab-kitabnya. 

Mungkin karena begitu fahamnya ia dengan pengetahuan surga, ada apa saja di surga ia nampak merasa sangat mengetahui semuanya. Luar biasa Kadrun ini, makanya jangan heran jika orang-orang menganggapnya sebagai makhluk langit. 

Suatu ketika ada dua Malaikat yang berdebat sengit mengenai dua sosok manusia ini: Kadir dan Kadrun. Malaikat yang pertama berkata,"Kadrun itu luar biasa, saya perhatikan dia itu tiap hari selalu memberikan ceramah agama di tempat-tempat ibadah. 

Dia tidak pernah mau berbicara politik, karena baginya politik itu penuh intrik dan kedengkian. Orang-orang politik bagi Kadrun adalah orang-orang yang gemar melakukan ghibah. Oleh karena itu, Kadrun lebih memilih syiar agama saja daripada ikut-ikutan ngomongin politik. Saya pikir Kadrun ini sangat layak jadi calon ahli surga".

"Apa? Kadrun layak jadi calon ahli surga? Surga yang mana itu? Surga yang buatan Dajjalkah?". Sergah Malaikat kedua seraya melanjutkan kata-katanya. "Kadrun memang ahli ibadah, gemar ceramah agama, namun ia sangat kemaruk dengan suara speaker ! Bagi Kadrun, ceramah agama ngalor ngidul jika tidak menggunakan speaker yang sangat kencang, itu seperti bicara sendirian di kamar yang gelap.

Karena itu Kadrun selalu ingin memastikan kalau ceramah agamanya bisa didengar oleh orang sekampung. Tak peduli ada orang-orang yang terganggu dengan suaranya, sebab bagi Kadrun, mereka yang merasa terganggu oleh suara syiar agama yang kencang, berarti mereka itu temannya Syaitan !".

"Loh...loh...kok jadi begitu? Wong orang rajin beribadah dan gemar syiar agama kok dibilang pantas masuk surganya Dajjal, ya surganya Allah dong. Gimana sih sampeyan ini?. Apa menurut sampeyan orang beriman yang ideal itu seperti si Kadir, yang kerjaannya tiap hari hanya membaca dan menulis dan ngomongin orang, namun tidak pernah mengenal adab, sopan santun, karena tiap ada ceramah agama di tempat ibadah, si Kadir malah dengerin musik?. Waaah...sampeyan ini kurang teliti menilai orang. Untung saja sampeyan ini Malaikat dan bukan Tuhan, kalau sampeyan yang jadi Tuhan, bisa celaka semua ini orang-orang beriman". Bantah Malaikat Pertama.

"Hemmm...sampeyan ini gimana sih Mas Malaikat, justru karena saya sangat teliti maka saya tau mana yang benar dan mana yang salah dari dua karakter Kadir dan Kadrun itu. Kadir itu kalau dilihat secara sepintas memang seperti lelaki berandalan. Sukanya merokok sambil membaca dan menulis yang menghantam banyak orang-orang besar. 

Tetapi taukah sampeyan Mas Malaikat, Kadir ini selalu membaca dan menulis mengikuti irama rintihan orang-orang kecil yang teredam atau tak terkatakan. Dan Kadir berani melakukan semuanya itu bukannya tanpa sadar akan resiko besar yang akan dihadapinya, namun Kadir masih berani terus bersuara melalui tulisan-tulisannya".

"Di saat orang-orang se level sosialnya tenggelam di dunia-dunia malam, di saat orang-orang se level sosialnya sibuk kasak-kusuk mencari tender-tender proyek di pemerintahan dengan berbagai penyuapan, Kadir memilih hidup menyendiri bergelut dengan sepi ditemani berbagai buku dan bacaan-bacaan yang menggambarkan realitas masyarakatnya.

Kadir membaca dan menganalisanya, untuk kemudian setelah ia menemukan titik pangkal persoalannya dan bagaimana cara memecahkan masalahnya, ia kemudian bersuara melalui tulisan-tulisannya. Sebuah suara hantaman demi hantaman politik yang sangat keras, namun tidak pernah mengganggu gendang telinga siapapun, terkecuali bagi mereka yang korup, tamak dan gemar memanipulasi kebenaran". 

"Kadir memang sepintas nampak seperti lelaki yang tak mengenal adab, sopan santun. Namun siapa menyangka di balik penampilannya yang seperti itu, suaranya selalu didengar oleh para wartawan, lawyer, tokoh lintas agama, birokrat, politisi dan para pejabat tinggi negara? Maka jangan heran, Kadir yang terlihat kesehariannya hanya membaca dan menulis sambil merokok di rumah di kampungya itu, tiba-tiba esoknya selalu ada saja di antara para tokoh masyarakat dan pejabat negara di gedung-gedung mentereng, tinggi menjulang di pusat Ibu Kota Negara tanpa terdeteksi oleh siapapun".

"Kalau Kadir kesehariannya selalu bergulat dengan hening dan sepi, kecuali tulisan-tulisannya yang selalu menyebar ke seluruh pelosok nusantara hingga ke istana negara. Namun dengan pikiran-pikiran genuinenya Kadir selalu mewarnai atmosfir politik dan kebudayaan, hingga sistem politik sosial bisa kembali ditata, dirapihkan, ditertibkan. 

Berbeda dengan Kadrun yang sepintas nampak sebagai manusia langit yang keimanannya sangat tinggi melebihi Tower Telkomsel, akan tetapi pada dasarnya hatinya lebih tinggi lagi, sifat ujub, sombongnya lebih mencakar langit lagi". 

"Orang-orang yang berfikir dan berdzikir dalam hening demi kemaslakhatan bangsa diabaikannya, tak dianggapnya, bahkan terus diganggu dengan suara-suara speakernya yang dapat memecah gendang telinganya. Sedangkan Tuhan dan ummat ini tidak tuli, tidak pula buta, kenapa Kadrun harus unjuk kesolehan terus menerus dengan cara-cara beragama model bar-barnya?. 

Kadir yang selalu membongkar skandal-skandal korupsi dan manipulasi orang-orang besar itu bukan berarti Kadir telah melakukan Ghibah, atau mempergunjingkan kesalahan orang. Sebab jika kriminalitas tidak diungkap, maka jutaan orang akan menjadi korbannya". 

"Inilah Jihad Politik Kadir yang sesungguhnya. Inilah spritualitas Kadir yang sejatinya, yang tidak akan pernah dapat dimengerti dan difahami oleh manusia-manusia telat mikir seperti Kadrun yang sudah dimabokkan oleh dogma-dogma agama. Afala Ta'qilun...Afala Tatafakkarun...Gunakan akalmu, gunakan pikiranmu !". Malaikat Kedua mengakhiri penjelasannya...(SHE).


14 Juni 2023.


Penulis : Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Pemerhati Politik.