HARIANMERDEKA.ID-Bagi seorang politisi, opini tentang dirinya itu sangat penting. Sebab opini soal dirinya itu bagian dari fakta sosial yang menentukan elektabilitas atau tingkat keterpilihan dirinya dalam sebuah Pemilu.
Untuk mempengaruhi opini publik, para politisi selalu penting menjaga pencitraan diri. Blusukan sana sini, poles sana sini, pasang spanduk di jalan jalan, berjanji berbuih buih, aktif di sosial media, blusukan kesana kemari, foto selfie di tengah petani sedang menanam padi, dan segudang perilaku aneh aneh untuk merebut citra diri.
Seorang Walikota, walaupun pada era kepemimpinanya itu kemiskinan masyarakatnya berada di bawah rata rata nasional, namun dapat dengan mudah melaju menjadi calon Gubernur karena opini yang dibangunya. Citranya yang berikan apresiasi atas karya anak anak Sekolah Teknik Menengah ( STM) membangun mobil rakitan sendiri juga dapat melambungkan namanya menjadi seorang Presiden. Walaupun faktanya industri mobil nasional hingga kepemimpinanya dua periode hampir habis tetap memble.
Ketika menjadi seorang calon Presiden, politisi itu boleh berjanji akan hapus utang negara. Walaupun kenyataanya justru utang negaranya berlipat drastis. Ketika masih menjadi seorang calon Presiden boleh saja berjanji akan bangun sektor maritim, walupun yang dibangun adalah daratan seperti jalan tol, bandara, yang memuluskan kepentingan investasi asing keruk sumberdaya alam kita ketimbang sediakan rumah layak bagi rakyat yang ketersediaanya tak mencukupi hingga 14 juta warga.
Sebagai calon Presiden boleh saja membual akan stop import pangan walaupun setelah jadi justru import pangan semakin menjadi jadi. Sebagai calon Presiden boleh saja berjanji ingin lepaskan kesenjangan kekayaan walaupun yang terjadi ekonomi senjang tak karu karuan. Empat anggota keluarga kekayaanya sama dengan 100 juta rakyat Indonesia yang termiskin.
Untuk membangun citra diri itu saat ini dengan kecanggihan analisa opini media yang dibantu dengan alat kecerdasan artifial ( Artificial Intelegent ) dapat diketahui dengan cepat apa yang sedang dibicarakan masyarakat, citra seperti apa yang diinginkan dan bagaimana cara mengarahkan agar citra diri seorang politisi itu cukup baik.
Untuk membiayai hal tersebut, para politisi tak segan segan belanjakan uang pribadi ataupun gunakan fasilitas uang negara yang dibayar dari keringat rakyat untuk pencitraan. Mereka tak segan segan sengaja membayar atau berikan kompensasi tertentu kepada para buzzer yang diharapkan mendukungnya. mm Setiap berita atau hal buruk tentang dirinya harus segera dilakukan upaya kontra opini demi membangun citra diri.
Presiden Jokowi hingga mendekati masa akhir periodenya terlihat masih sangat tinggi citra dirinya. Walaupun agenda reformasi yang ingin hapuskan KKN justru kasus korupsi, kolusi dan bahkan semakin menggila. Bahkan secara vulgar nepotismenya sebagai upaya membangun dinasti politik keluarga dilakukanya.
Citra dirinya yang sukses dibangun di mata publik tersebut bahkan membuat para politisi lainya ingin tetap terus melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Jokowi. Bayangkan bagaimana jika itu terjadi kedepan, bagaimana jika utang negara misalnya dilanjutkan dengan skema kebijakan Jokowi hari ini yang sudah dalam posisi gali lobang buat jurang, bagaimana nasib bangsa kedepan. Apakah tidak ada lagi anak bangsa ini yang becus berfikir untuk lakukan perubahan? ***
Jakarta, 15 Juli 2023
Penulis : Suroto
