PCINU UK Tegaskan Konflik di Gaza Bukti Pentingnya Moderasi Beragama

 


HARIANMERDEKA.ID, London -Berbagai masalah kemanusiaan seharusnya bisa dihindari dan ditangani jika semangat moderasi beragama dikedepankan. Konflik di Gaza adalah tantangan nyata bagi umat Muslim dalam mempertahankan nilai-nilai bahwa Islam adalah agama damai. Buktinya kita telah berupaya terus mendorong adanya gencatan senjata sebagai upaya perdamaian. Tapi sayangnya di-veto oleh Amerika.

Demikian diungkapkan Abdul Syakir, Katua Panitia Konferensi Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom di London (10/12).


Salah satu hasil rekomendasi konferensi tersebut adalah mendorong pemerintah RI untuk dapat terus berperan dalam mengupayakan perdamaian di Gaza. Dalam konteks ini, perdamaian erat kaitannya dengan bagaimana memperjuangkan semangat beragama yang moderat. "Sudah saatnya ide-ide beragama yang damai dan bersumber dari Indonesia terus tampil di dunia global dan memberikan dampak," tandas Abdul Syakir


Selain mendorong pemerintah, PCINU UK juga mengampanyekan moderasi beragama di kalangan diaspora Indonesia di negeri Raja Charles.


Ketua PCINU UK demisioner, Shandy Adiguna juga mengatakan bahwa implementasi nilai-nilai moderasi beragama menjadi tanggung jawab berbagai stakeholder, termasuk diaspora Indonesia di Inggris Raya. 


 "Dalam konteks global, kader-kader NU di luar negeri adalah sumber daya manusia yang luar biasa untuk menyuarakan semangat Islam wasathiyah. Diplomasi Islam wasathiyah ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita diaspora Muslim, termasuk NU," tandas Shandy. 


Senada dengan Shandy, A'wan PBNU, Habib Mohsen Alaydrus juga menyampaikan bahwa di abad kedua ini ada harapan besar NU bisa semakin mengglobal. 


"Masyarakat Indonesia harus lebih optimis bahwa warna keislamannya punya dampak besar untuk dunia khususnya dalam membawa perdamaian dan kemajuan," tegas Mohsen.


Kepala Balitbang Kemenag RI, Suyitno yang hadir dalam acara tersebut juga mengingatkan bahwa moderasi beragama artinya menjunjung tinggi nilai kesetaraan sesama manusia apapun latarnya.


 Menurutnya, dengan melakoni nilai-nilai moderasi beragama dalam berbagai sikap dan perilaku, semua isu-isu sosial dapat terjawab. Bukan hanya itu, masalah-masalah global yang pemantiknya adalah agama, jadi bisa terpecahkan.


"Islam yang moderat yang kita yakini itu menjunjung kesetaraan sesama manusia meskipun berbeda agama. Ini sejalan dengan maqosid al-syariah. Dengan semangat ini, terpeliharalah agama, terpelihara jiwa, terpelihara akal, terpelihara keturunan, terpelihara harta," ujarnya. 


Dalam Konfercab PCINU UK ini juga dilakukan penandatanganan Deklarasi Moderasi Beragama oleh berbagai elemen diaspora seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia di London, Paguyuban Merah Putih, dan berbagai tokoh senior diaspora Indonesia di UK dari berbagai agama. 


Selain itu tampil tim  rebana Muslimat NU yang pernah diundang Mayor of London tampil di Trafalgar Square sebagai obat rindu bagi jamaah bagaimana meriahnya suasana keagamaan khas Indonesia. 


Hasil musyawarah terkait peremajaan pengurus, terpilih Roman Cahaya sebagai rais syuriah dan Rosyid Jazuli sebagai ketua tanfidliyah. Kepengurusan yang baru akan memimpin dan menjalankan program-program PCINU UK selama setidaknya dua tahun ke depan. (*)