SBY Soroti Kemunduran Peradaban dalam Peperangan Modern

 

Jendral Purn


HARIANMERDEKA.ID, Jakarta - Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui akun resminya di Twitter, menyampaikan kekhawatirannya mengenai perkembangan peperangan dan operasi militer yang semakin jauh dari etika dan norma yang berlaku. Dalam cuitannya pada tanggal 1 Juni 2024, SBY menyoroti bahwa praktik-praktik berperang saat ini menunjukkan kemunduran peradaban dan nilai-nilai kemanusiaan.

SBY menegaskan bahwa di masa lalu, peradaban manusia terus berkembang menuju kondisi yang lebih beradab, dengan aturan hukum dan etika yang semakin ketat dalam konflik bersenjata. Namun, ia mencatat bahwa akhir-akhir ini, aturan tersebut sering diabaikan, dengan banyaknya korban jiwa dari kalangan sipil dan infrastruktur yang hancur tanpa rasa bersalah.

"Seolah cara apapun dibenarkan. The ends justify the means. Jatuhnya korban jiwa penduduk sipil dan mereka yang tidak berdosa (non combatant dan innocent people) diabaikan," tulis SBY. Ia mempertanyakan apakah para politisi dan jenderal sudah kehilangan hati nurani dan kejernihan berpikir.Minggu (01/06)

Lebih lanjut, SBY juga mengkritik para pemimpin dunia yang tampaknya tidak mampu atau tidak mau menghentikan kekerasan dan konflik yang membahayakan kehidupan global. Ia mengkhawatirkan kemungkinan bahwa peperangan yang tidak beradab ini akan menjadi "a new normal" dan mendapat pembenaran dalam sejarah.

SBY juga mengaitkan situasi global saat ini dengan kembalinya "geopolitics of hard power" dan munculnya "geopolitics of the new ideology". Ia bertanya-tanya apakah "clash of civilizations" telah digantikan dengan "clash of nations".

"Saat ini dan ke depan, mestinya dunia makin bersatu dan berkolaborasi untuk mengatasi permasalahan global yang amat mendasar, seperti menyelamatkan bumi dari krisis iklim dan lingkungan serta mengatasi kemiskinan sejagat dan berbagai ketidak-adilan," ujar SBY.

Mantan Presiden RI tersebut juga menyoroti peran veto dalam mekanisme PBB sebagai salah satu penghambat utama dalam mencari solusi untuk menghentikan peperangan. Ia menyatakan bahwa prakarsa politik untuk mengakhiri konflik sering kali gagal karena veto dari salah satu pemegang hak veto di PBB.

SBY mengajak masyarakat untuk tidak kehilangan harapan, mengutip pepatah yang ia pelajari sejak kecil, "di mana ada kemauan, di situ ada jalan". Ia berharap bahwa meskipun situasi saat ini tampak suram, selalu ada solusi yang bisa diupayakan.

Cuitan SBY tersebut mengundang berbagai respons dari netizen, yang sebagian besar mendukung pandangan dan kekhawatiran yang diungkapkannya. Sebagai seorang tokoh yang dihormati, pandangan SBY diharapkan dapat menjadi renungan bagi para pemimpin dunia dalam menghadapi tantangan global saat ini.