![]() |
| Pelantikan Pengurus DPP Pengajian Al-Hidayah periode 2025–2030 yang digelar di Jakarta, Sabtu (29/11/2025) |
HARIANMERDEKA.ID,Jakarta – Pelantikan Pengurus DPP Pengajian Al-Hidayah periode 2025–2030 yang digelar di Jakarta, Sabtu (29/11/2025), menjadi momentum penting bagi organisasi untuk memperkuat struktur dan meningkatkan kapasitas kepemimpinan perempuan di tingkat nasional. Acara ini menandai langkah baru Pengajian Al-Hidayah dalam memperluas kontribusi pada pembangunan sosial dan pemberdayaan keluarga di Indonesia.
Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah, Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa organisasi perempuan harus memiliki fondasi kepemimpinan yang kuat agar mampu menghadapi perubahan zaman. Hetifah, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar, menekankan bahwa amanah kepengurusan lima tahun ke depan harus dilaksanakan dengan profesional, solid, dan berorientasi manfaat.
“Amanah ini bukan hadiah, tetapi tanggung jawab besar. Organisasi hanya akan kuat jika pengurus bekerja kompak, ikhlas, dan konsisten memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Hetifah dikutp HarianMerdeka dari Golkarpedia Senin (01/12)
Ia juga menyoroti peran strategis perempuan dalam memperkuat nilai moral, spiritual, dan ketahanan keluarga. Sejak awal berdiri, Pengajian Al-Hidayah dikenal sebagai penggerak literasi keluarga dan pembinaan karakter di tengah masyarakat.
Pada periode baru ini, Al-Hidayah menetapkan tiga fokus utama, yakni peningkatan kualitas pengajian, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta penguatan tata kelola organisasi melalui kolaborasi dengan lembaga nasional. Sinergi berbagai pihak disebut sebagai kunci memperluas dampak sosial organisasi.
Menurut Hetifah, saat ini Pengajian Al-Hidayah telah tersebar di seluruh Indonesia dengan struktur organisasi di 38 provinsi serta 412 kabupaten/kota.
Dalam kesempatan pelantikan, Pengajian Al-Hidayah turut menyampaikan duka mendalam atas musibah banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Organisasi tersebut berkomitmen menggalang donasi untuk membantu para korban.
Ketua Dewan Penasehat DPP Pengajian Al-Hidayah, Sri Suparni Bahlil, menambahkan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan sosial di tengah dinamika zaman. Ia mendorong seluruh pengurus menjadi motor gerakan perempuan yang visioner dan mampu menjalankan program sosial berkelanjutan.
“Ribuan kader Al-Hidayah di seluruh Indonesia adalah potensi besar yang perlu diperkuat melalui pelatihan dan kaderisasi agar mereka mampu tampil sebagai pemimpin di komunitas masing-masing,” ujarnya.
Dengan kepengurusan yang lebih solid dan strategi yang terarah, Pengajian Al-Hidayah optimistis dapat melahirkan lebih banyak pemimpin perempuan yang berkontribusi bagi umat, bangsa, dan pembangunan nasional.(*)
