![]() |
| Dr.Dina Sulaeman pengamat politik Timur Tengah dan analis geopolitik |
HARIANMERDEKA.ID, Jakarta — Pengamat Timur Tengah dan analis geopolitik Dr. Dina Sulaeman menilai krisis yang dialami Venezuela tidak bisa dilepaskan dari pola lama intervensi Amerika Serikat terhadap negara-negara yang berusaha berdaulat atas sumber daya alamnya sendiri.
Melalui akun Twitter pribadinya @dina_sulaeman, Minggu (04/01), Dina menegaskan bahwa tuduhan Amerika Serikat terhadap Venezuela, seperti isu narkoterorisme atau pelanggaran demokrasi, hanyalah narasi penutup dari kepentingan yang lebih besar, yakni penguasaan sumber daya minyak
.VENEZUELA: POLA YANG BERULANG
— Dina Sulaeman (@dina_sulaeman) January 4, 2026
Setiap kali ada negara yang berani menguasai sumber daya alamnya sendiri, dan kebijakan itu merugikan perusahaan Amerika, pola yang sama selalu muncul:
tekanan politik, propaganda, sanksi ekonomi…
lalu upaya penggulingan rezim.
Venezuela hari ini… pic.twitter.com/YPBND1Fuim
Ia mengutip pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka mengakui kepentingan negaranya terhadap minyak Venezuela. Menurut Dina, pernyataan tersebut memperjelas bahwa konflik Venezuela bukan soal keamanan global, melainkan soal ekonomi dan kendali sumber daya.
“Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan Amerika merasa berhak atas sumber daya tersebut,” tulisnya.
Dina menjelaskan, apa yang terjadi di Venezuela merupakan pengulangan dari pola intervensi yang sama di berbagai negara sejak Perang Dunia II. Ia mencontohkan Iran tahun 1953, ketika Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan setelah menasionalisasi minyak.
Chile tahun 1973, saat Presiden Salvador Allende dijatuhkan usai menasionalisasi tambang tembaga. Hingga Kongo, di mana Patrice Lumumba dibunuh karena memperjuangkan kedaulatan mineral negaranya.
Ia juga menyinggung Libya tahun 2011, ketika Muammar Qaddafi berupaya mengurangi dominasi dolar dan mengontrol sumber minyak nasional, yang berujung pada intervensi militer NATO. Menurutnya, daftar negara yang mengalami tekanan serupa masih sangat panjang, mulai dari Guatemala, Irak, Afghanistan, Suriah, Mesir, hingga Iran pasca Revolusi 1979.
Indonesia pun, kata Dina, tidak lepas dari pola tersebut. Ia menilai kebijakan Presiden Soekarno yang mendorong kedaulatan ekonomi dan menasionalisasi aset asing menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan rezim pada 1965, dengan keterlibatan Amerika Serikat di balik layar.
Dina menyebut, berbagai kajian menyatakan Amerika Serikat terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam lebih dari 70 upaya perubahan rezim sejak 1945. Meski angka pastinya bisa diperdebatkan, menurutnya pola intervensinya sangat konsisten.
“Pemimpin yang tunduk akan dilindungi, sementara yang melawan akan dijatuhkan,” tegasnya.
Dalam konteks terkini, Dina juga menyoroti situasi Palestina. Ia menilai dukungan penuh Amerika Serikat terhadap Israel tidak semata soal keamanan, melainkan terkait kendali wilayah dan sumber daya, termasuk potensi ladang gas di lepas pantai Gaza.
Menurutnya, setiap kali Amerika Serikat menggaungkan isu demokrasi dan hak asasi manusia, publik perlu bertanya lebih dalam: sumber daya apa yang ada di wilayah tersebut, siapa yang menguasainya, dan siapa yang diuntungkan.(***)
