HARIANMRDEKA.ID, Banyumas-Ratusan warga Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, menggelar aksi demonstrasi menuntut penutupan aktivitas tambang pasir dan batu di kawasan lereng Gunung Slamet, Senin (19/01). Aksi berlangsung di depan pintu gerbang lokasi tambang sejak pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Aksi tersebut dilakukan oleh warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan. Mereka membawa berbagai spanduk bernada penolakan terhadap aktivitas pertambangan yang dinilai berpotensi merusak lingkungan dan memicu bencana di kemudian hari.
Salah satu spanduk yang terbentang di sepanjang Jalan Raya Sumbang–Baturraden Timur bertuliskan seruan agar aktivitas tambang Gandatapa segera dihentikan. Tulisan-tulisan bernada perlawanan menjadi simbol kegelisahan warga terhadap keberadaan tambang di wilayah pemukiman mereka.
Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan, Eka Wisnu Irianta, menegaskan bahwa tuntutan utama dalam aksi tersebut adalah penutupan tambang secara permanen. Menurutnya, warga melihat dampak jangka panjang yang berpotensi merugikan generasi mendatang.
“Kami tidak hanya memikirkan hari ini. Lingkungan ini bukan sekadar warisan dari nenek moyang, tetapi titipan untuk anak cucu kita. Jangan sampai yang mereka terima nanti hanya lubang-lubang bekas tambang,” tegas Eka Wisnu dikutip dari Pamor.co Kamis (22/01)
Ia juga menambahkan bahwa meskipun kewenangan penutupan tambang berada di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, warga akan terus mengawal dan mengawasi prosesnya sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup.
“Kami akan terus melakukan kontrol sosial. Ini bentuk tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggalnya,” ujarnya.
Eka Wisnu menyebutkan, ke depan akan dilakukan evaluasi lanjutan melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi. Selain itu, aliansi juga berencana melakukan pertemuan dengan anggota DPRD Kabupaten Banyumas untuk menyampaikan aspirasi warga secara resmi.
Sementara itu, salah satu warga Desa Gandatapa yang enggan disebutkan namanya mengaku berada di posisi dilematis. Di satu sisi, ia memahami manfaat ekonomi dari keberadaan tambang bagi para pekerja, namun di sisi lain khawatir terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.
“Secara ekonomi memang membantu, tapi kami juga takut akan risiko bencana. Kalau terjadi longsor atau kerusakan lingkungan, dampaknya akan dirasakan warga sekitar,” ungkapnya.
Saat dimintai keterangan terkait aksi dan aktivitas tambang tersebut, Pemerintah Desa Gandatapa melalui Sekretaris Desa, Eni, memilih tidak memberikan pernyataan.
“Untuk saat ini kami belum bisa memberikan komentar. Kepala desa sedang menghadiri rapat, dan saya khawatir jika menyampaikan pernyataan yang belum tentu benar justru berisiko,” ujarnya singkat di kantor sementara Desa Gandatapa.
