Gibran Simbol Semangat Muda Atau Simbol Politik Machiavellian

 

Gibran Rakabuming Raka 

HARIANMERDEKA.ID-Bagi koalisi pengusung, dipilihnya Gibran jadi Cawapres dimaknai sebagai simbol memberi tempat terhormat pada generasi muda dan nilai-nilainya sebagai pemimpin bangsa. Benarkah demikian?


Gibran memang muda. Fisiknya, umur, pengalaman politik, dan pemerintahan masih tergolong muda. Dengan Gibran sebagai cawapres bisa diklaim memberi kesempatan pada generasi muda bersama nilai nilai mereka untuk kemajuan bangsa. Boleh saja diframing demikian.  


Hanya saja, sebenarnya jiwa anak muda itu, berkarakter, punya idealisme dan menyukai profesionalisme. Anak-anak muda itu cinta keadilan, kesetaraan dan kemandirian. Menyukai nilai- nilai demokrasi, dan meritokrasi. Anak muda tidak suka jalan pintas, apalagi melakukan bypass karena peran keluarga atau orang. 


Jadi mengusung Gibran sebagai cawapres, tidak otomatis berarti mengusung nilai-nilai anak muda. Karena proses dan nilai yang disandang justru bertentangan dengan karakter anak muda pada umumnya. Umur dan fisik Gibran memang muda, tapi nilai-nilai yang dibawa dan tersemat sekarang justru nilai-nilai lama. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, peran mas Gibran sekarang malah dibaca sbg simbol upaya keluarga mempertahankan kekuasaan. Walau dibungkus rapi dengan berbagai alasan untuk kepentingan negara, tapi tertutup dengan cara cara prosesnya yg jauh dari kepatutan. 


Diwarnai dengan keributan terkait keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang bermasalah dan peran pamannya disana, tapi juga Pemohon gugatan yang tak lain pengagum Gibran. Hingga fakta keputusan Mahkamah Konstitusi itu langsung membuka peluang dan jalan Gibran bisa dicalonkan. Ini nampak nyata sebagai fakta yg menghancurkan marwah Mahkamah Konstitusi. Sebuah cara yang menabrak etika dan bahkan hukum tata negara.


Sebenarnya boleh-boleh saja orang mengembangkan politik dinasti dan keluarga, tapi tatkala upayanya sampai mengorbankan kredibiltas Mahkamah Konstitusi, dengan merusak tatanan dan kewenangan, kesannya jadi berbeda. Inilah yg membuat orang membelalakkan mata, bahkan tidak percaya. Mengapa di akhir pemerintahan Jokowi justru harus terjadi peristiwa yang benar-benar mencederai demokrasi dan reformasi.


Keterlibatan keluarga, teman, dan pendukung sampai bisa mempengaruhi putusan Mahkamah Konstitusi adalah persoalan serius moral politik bernegara. Identik dengan Politik Machiavellian yang memisahkan legitimasi hukum dan moralitas. Bagi penganut Machiavellian, urusan negara, dilihat dari sisi nyata perpolitikan, yg tujuannya menguasai atau mempertahankan kekuasaan. Bagi Machiavellian hal-hal berbau moral diabaikan. Itu inti ajaran yang terdapat dalam isi surat Machiavelli yang berjudul Il Prince, saat Ia menasehati  penguasa Italia di zamannya, Lorenzo De’Medici


Jadi upaya-upaya melakukan apa saja demi kekuasaan, dengan mengabaikan moralitas itu selain sesuai ajaran Machiavelli , cocok juga dengan apa yg ditulis Lord John Emerich Edward Dalberg Acton, “Power tends to corrupt but absolut power, corrupt absolutely” di awal abad 19.


Jadilah mas Gibran disadari atau tidak, suka atau tidak, sekarang oleh publik dilihat bukan sebagai simbol semangat anak muda di jamannya, tapi lebih dilihat sebagai simbol keluarga yang sedang berupaya mempertahankan kekuasaan dinastinya. Strategi politik dengan cara apa saja, termasuk berkoalisi dengan kelompok yg mengusung capres orang tua warisan tokoh Orde Baru, yg sudah 3X kalah, hingga skrg hrs dg cara-cara menabrak norma sosial, moral & etika. 


Jadi di balik legitimasi sebagai cawapres, Gibran membawa simbol politik Machiavellian yang memisahkan politik dan moral.  Maka jangan heran jika awalnya ayahnya dapat dukungan kuat, sekarang muncul banyak kritik, bahkan makian dalam berbagai bentuk kekecewaan, atas dipakainya cara-cara Machiavellian. 


Hanya saja dulu jaman Machiavelli di Itali, pemikirannya itu ditujukan sebagai nasehat ke penguasa disana saat itu, apakah dalam konteks sekarang ini juga merupakan hasil dari nasehat seseorang yg terinspirasi Machiavelli? Kita lihat nanti, ada tidaknya penasehat seperti "Machiavelli” disini.


Penulis : Prof Hendri Subiakto

Dosen Unair yg abdikan diri untuk kebaikan komunikasi, & kemajuan negeri. Bela agama & negara, tak takut ungkap kebenaran.