DPR Nilai Keluar dari WHO Berpotensi Lemahkan Penanganan Kesehatan Global

 


HARIANMERDEKA.ID, Jakarta- Keputusan Amerika Serikat untuk resmi menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menuai perhatian dari DPR RI. Wakil Ketua Komisi I DPR, Sukamta, menilai langkah tersebut berpotensi melemahkan upaya penanganan krisis kesehatan global yang sangat bergantung pada kerja sama antarnegara. Sabtu (24/01).


Sukamta menyayangkan keputusan AS tersebut, mengingat WHO selama ini berperan penting sebagai pusat koordinasi kesehatan dunia. Menurutnya, keputusan itu diambil di saat tantangan kesehatan global justru semakin kompleks, mulai dari ancaman pandemi, penyebaran penyakit lintas negara, hingga dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.


Ia menilai melemahnya komitmen terhadap kerja sama multilateral dapat mengurangi efektivitas respons global dalam menghadapi krisis kesehatan bersama. Meski demikian, Sukamta menyebut dampak langsung terhadap Indonesia relatif terbatas.


Indonesia, kata dia, tetap menjadi anggota WHO dan masih memiliki akses terhadap berbagai data, panduan teknis, serta rekomendasi kebijakan kesehatan internasional yang dibutuhkan dalam perumusan kebijakan nasional.


Namun, secara global, keluarnya AS dinilai berpotensi membawa dampak signifikan. Pasalnya, Amerika Serikat selama ini merupakan salah satu penyumbang dana terbesar bagi WHO. Berkurangnya dukungan finansial dan politik dari AS dapat memengaruhi kapasitas organisasi tersebut dalam menjalankan program kesehatan di berbagai negara.


Oleh karena itu, Sukamta mendorong Indonesia untuk tetap menunjukkan komitmen terhadap kerja sama kesehatan internasional. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi bilateral dan regional, serta mempercepat penguatan kemandirian sektor kesehatan nasional.


Menurutnya, penguatan riset, produksi obat, dan alat kesehatan dalam negeri menjadi langkah strategis agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada dinamika politik global, terutama dalam menghadapi potensi krisis kesehatan di masa mendatang.