![]() |
| Guru Besar Unair Prof.Dr. Henri Subiakto pakar komunikasi politik dan hukum komunikasi ( Gambar :Ai/HarianMerdeka |
HARIANMERDEKA, Jakarta — Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Henri Subiakto, mengingatkan masyarakat Indonesia untuk mewaspadai politik adu domba dan pengkhianatan dari dalam, yang menurutnya telah berulang kali melemahkan perjuangan bangsa sejak masa penjajahan hingga era modern. Minggu (11/01).
Peringatan tersebut disampaikan Henri Subiakto melalui akun X (Twitter) pribadinya @henrysubiakto
AWAS POLITIK ADU DOMBA DAN ADA PENGKHIANAT DI SEKITAR KITA
, yang memuat refleksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda. Ia menilai kegagalan sejumlah perlawanan besar di masa lalu tidak semata karena kekuatan penjajah, tetapi juga akibat pengkhianatan orang-orang dekat perjuangan.
Kita punya sejarah yang cukup kelam. Nenek moyang kita dijajah Belanda sekitar 350 tahun. Itu periode yang sangat lama. Padahal para pendahulu kita itu dikenal pemberani, ulet, dan tidak mudah menyerah. Namun kenapa saat…
Henri mencontohkan Perang Diponegoro (1825–1830), di mana Pangeran Diponegoro yang sempat mengguncang keuangan Pemerintah Belanda akhirnya ditangkap setelah ditipu Jenderal De Kock dan dikhianati orang kepercayaannya, Patih Danurejo.
Ia juga menyinggung perjuangan Cut Nyak Dien yang gigih melawan Belanda di Aceh. Menurutnya, Cut Nyak Dien sulit ditaklukkan secara militer, namun akhirnya ditangkap setelah lokasi persembunyiannya dibocorkan oleh orang dekatnya, Pang Laot.
Contoh lain yang diangkat adalah serangan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram ke Batavia pada abad ke-17. Henri menyebut kegagalan ekspedisi besar tersebut tak lepas dari pengkhianatan Tumenggung Inderanata, yang membocorkan lokasi lumbung-lumbung logistik pasukan Mataram kepada Belanda. Akibatnya, lumbung pangan dibakar,r pasukan kehabisan logistik, terserang penyakit, dan serangan pun gagal.
Menurut Henri, pengkhianatan selalu menjadi faktor laten dalam setiap perjuangan besar, baik di masa kolonial maupun di era sekarang. Ia menilai motif utama pengkhianatan sering kali serupa, yakni godaan uang, jabatan, dan kenyamanan hidup, terutama ketika kondisi ekonomi sulit.
Ia juga mengingatkan bahwa strategi politik adu domba, yang dulu digunakan penjajah Belanda untuk memecah kekuatan pribumi, masih relevan hingga kini. Strategi tersebut, menurutnya, kerap digunakan oleh pihak-pihak berkekuatan modal dan kekuasaan untuk melemahkan tokoh atau gerakan yang dianggap mengancam kepentingan mereka.
“Cara-cara licik itu persis seperti yang dilakukan penjajah dulu,” tulis Henri dalam unggahannya. Ia menilai hal inilah yang membuat bangsa Indonesia kerap kesulitan mencapai kemajuan, karena setiap kali muncul tokoh yang berani berjuang untuk perbaikan negeri, selalu ada pihak yang memilih berpihak pada kepentingan lawan.
Henri Subiakto dikenal sebagai pakar komunikasi politik dan hukum komunikasi, serta kerap diminta menjadi ahli Undang-Undang ITE di pengadilan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan pendapat pribadi yang disampaikan melalui akun media sosialnya.(Yws).
