![]() |
| Ketua DPR RI Puan Maharani |
HARIANMERDEKA.ID, Jakarta-Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik global menyusul tuntutan Rusia kepada Amerika Serikat agar membebaskan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Menurut Puan, langkah Moskow tersebut bukan sekadar pernyataan diplomatik biasa, melainkan sinyal serius dari dinamika kekuatan global yang sedang berubah. Rabu (07/01).
Puan menilai, ketika sebuah negara besar secara terbuka menuntut pembebasan kepala negara asing yang ditahan kekuatan global lain, hal itu menunjukkan adanya pergeseran penting dalam tatanan internasional. Situasi tersebut, kata dia, menambah tekanan pada keseimbangan geopolitik dunia yang saat ini sudah berada dalam kondisi rapuh.
“Tuntutan ini menyentuh isu-isu fundamental seperti kedaulatan negara, imunitas kepala negara, penegakan hukum lintas negara, serta pertarungan narasi antar kekuatan besar dalam memperebutkan legitimasi, terutama di mata negara-negara Global South,” ujarnya, Selasa (06/01).
Menurut Puan, peristiwa tersebut bukan hanya konflik diplomatik semata, tetapi menjadi ujian nyata bagi aturan main internasional yang selama ini dianggap stabil dan mapan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan bagi negara-negara dengan posisi menengah seperti Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa dampak dari ketegangan ini tidak hanya dirasakan di Venezuela atau Amerika Serikat, tetapi berpotensi memengaruhi stabilitas energi global, ruang gerak diplomasi, hingga dinamika diskursus publik di dalam negeri.
Dalam situasi yang sarat ketidakpastian, Puan menilai terdapat sejumlah faktor kunci yang akan menentukan arah krisis. Salah satunya adalah kejelasan sikap Amerika Serikat terkait status hukum Nicolás Maduro, termasuk dasar hukum penangkapannya.
“Klarifikasi resmi akan membawa persoalan ini ke tingkat yang dapat memicu pembahasan di Dewan Keamanan PBB, sekaligus memperkuat klaim Rusia bahwa sedang tercipta preseden baru dalam hukum internasional,” jelasnya.
Sebaliknya, jika ketidakjelasan terus berlanjut, Puan menilai hal tersebut justru membuka ruang bagi spekulasi dan narasi yang sulit dikendalikan.
Faktor berikutnya adalah respons institusi internasional dan kawasan. Menurut Puan, muncul pertanyaan besar apakah kasus ini akan diposisikan sebagai isu fundamental terkait penahanan kepala negara atau sekadar dianggap perselisihan bilateral yang diabaikan oleh komunitas global.
Ia juga menyoroti pentingnya sikap negara-negara Amerika Latin. Respons yang terlalu lama dinilai dapat ditafsirkan sebagai kelelahan atau ketakutan, sementara sikap terbuka, baik mendukung Rusia maupun Amerika Serikat .berpotensi mengubah peta aliansi dan solidaritas regional.
Sumber : Gesuri
