![]() |
| Gambar ilustrasi Ai |
HARIANMERDEKA.ID, Birmingham– Memasuki usia satu abad sejak berdiri pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama (NU) dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga konsistensi khittah dan peran historisnya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Hal itu disampaikan oleh Ahmad Syaifullah, M.Akun, Pengurus PC LKKNU Bangkalan yang saat ini tinggal di Birmingham, Inggris (UK), Minggu (31/02).
Menurut Ahmad, NU lahir dari kegelisahan para ulama pesantren terhadap masa depan Islam, umat, dan bangsa. Sejak awal, NU tidak didirikan untuk mengejar kekuasaan politik, melainkan sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, merawat tradisi Islam Nusantara, serta membela kepentingan umat dan tanah air.
“Sejarah NU menunjukkan peran besar ulama dalam perjuangan bangsa, mulai dari Resolusi Jihad hingga kontribusi dalam perumusan dasar negara agar Islam dan negara bisa berdampingan dalam masyarakat yang majemuk,” ujarnya.
Namun, Ahmad menilai usia satu abad juga membawa tanggung jawab besar bagi eksistensi NU. Ia mengingatkan adanya kecenderungan sebagian kader terjebak dalam euforia kebesaran organisasi, sehingga menjauh dari khittah NU 1926 yang ditegaskan kembali pada Muktamar Situbondo 1984. Khittah tersebut menempatkan NU sebagai kekuatan moral, bukan alat politik praktis.
“NU boleh dekat dengan siapa saja, tetapi tidak boleh dimiliki oleh siapa pun. Ketika simbol dan struktur NU terseret dalam kepentingan politik praktis, yang dipertaruhkan adalah marwah organisasi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti lemahnya pengelolaan aset NU yang sangat besar, mulai dari tanah wakaf, lembaga pendidikan, hingga fasilitas sosial. Menurutnya, aset tersebut belum dikelola secara profesional dan transparan, sehingga berpotensi menimbulkan konflik internal dan kerugian umat.
Selain itu, Ahmad mengkritisi sistem kaderisasi NU yang dinilai belum terencana secara sistematis. Regenerasi kepemimpinan kerap berjalan alamiah dan sporadis, sehingga tidak selalu melahirkan kader dengan kapasitas dan integritas terbaik.
Fenomena menguatnya peran elite ekonomi dan politik dalam struktur NU juga menjadi perhatian. Ia mengingatkan agar NU tidak menjauh dari basis utamanya, yakni petani, buruh, nelayan, dan masyarakat kecil. “NU besar karena umat, bukan karena elite,” katanya.
Dalam refleksinya, Ahmad juga menyinggung tantangan dakwah di era digital. Ia menilai NU masih tertinggal dalam memanfaatkan ruang digital sebagai medan dakwah dan pertarungan gagasan keislaman, sehingga berisiko kehilangan generasi muda.
Ahmad menegaskan bahwa tantangan terbesar NU di usia satu abad bukan terletak pada besarnya nama atau jumlah jamaah, melainkan konsistensi terhadap khittah. Menurutnya, satu abad NU harus menjadi momentum muhasabah kolektif untuk memperkuat kemandirian ekonomi, memperbaiki kaderisasi, dan sungguh-sungguh memberdayakan umat.
“Jika NU mampu menata ulang arah perjuangan dengan konsisten, NU akan tetap menjadi rumah besar Islam Nusantara, bukan hanya besar secara jumlah, tetapi juga agung secara moral dan mulia dalam sejarah,” pungkasnya.
