DPR Minta Pemerintah Percepat Perbaikan Jalan dan Tambah Armada Transportasi Jelang Mudik Lebaran 2026

 




HARIANMERDEKA.ID, Jakarta – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, Sudjatmiko, meminta pemerintah mempercepat kesiapan infrastruktur serta armada transportasi menjelang arus mudik Lebaran 2026. Ia menegaskan bahwa keselamatan pemudik harus menjadi prioritas utama, terutama dengan memastikan kondisi jalan dan fasilitas transportasi dalam keadaan optimal.


Menurut Sudjatmiko, perbaikan jalan yang rusak akibat curah hujan tinggi harus segera dilakukan sebelum volume kendaraan meningkat secara signifikan. Ia menyoroti banyaknya jalan berlubang dan sambungan jembatan yang perlu segera diperbaiki agar tidak membahayakan pengguna jalan saat puncak arus mudik.


“Kami meminta pemerintah semakin mematangkan persiapan infrastruktur maupun transportasi. Keselamatan pemudik harus menjadi prioritas absolut. Jalan berlubang harus segera ditutup dan sambungan jembatan yang rusak wajib diperbaiki sebelum volume kendaraan meningkat tajam,” kata Sudjatmiko di Jakarta, Selasa (10/03).


Ia menjelaskan bahwa berdasarkan evaluasi pada masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebelumnya, angka kecelakaan lalu lintas tercatat turun sekitar 7 persen. Meski demikian, tantangan saat mudik Lebaran diperkirakan jauh lebih besar karena mobilitas masyarakat meningkat drastis.


Sudjatmiko menyebutkan sekitar 90 persen kendaraan dari kawasan Jabodetabek diprediksi akan bergerak secara bersamaan menuju wilayah timur Pulau Jawa. Kondisi ini, menurutnya, membutuhkan kesiapan yang lebih matang dibandingkan periode libur Nataru.


“Jumlah pemudik saat Lebaran biasanya jauh lebih besar. Karena itu, persiapan pemerintah harus lebih maksimal agar arus perjalanan dapat berjalan lancar dan aman,” ujarnya.


Selain menyoroti kondisi jalan, Sudjatmiko juga menekankan pentingnya penambahan kapasitas transportasi. Di sektor penyeberangan laut, pemerintah berencana menambah jumlah kapal feri dari 40 unit menjadi sekitar 80 unit untuk mengurai kepadatan di pelabuhan.


Sementara itu, untuk transportasi udara dan kereta api, ia mendorong adanya peningkatan frekuensi perjalanan serta penambahan gerbong atau kursi penumpang guna mengantisipasi lonjakan jumlah pengguna jasa transportasi.


Sudjatmiko juga mengingatkan adanya titik rawan kecelakaan yang sering terjadi menjelang waktu berbuka puasa, khususnya di ruas jalan tol. Kondisi ini biasanya dipicu oleh kelelahan pengemudi serta kepadatan kendaraan yang meningkat dalam waktu bersamaan.


Karena itu, ia meminta pemerintah memastikan ketersediaan rest area yang memadai di sepanjang jalan tol serta menjaga stabilitas pasokan bahan bakar minyak (BBM) agar tidak terjadi antrean panjang yang berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan.


“Biasanya titik rawan kecelakaan terjadi menjelang waktu berbuka puasa. Kapasitas rest area di ruas tol yang padat perlu ditambah, dan pasokan BBM harus dipastikan aman agar tidak menimbulkan kendala bagi pemudik,” tegasnya.


Selain faktor infrastruktur dan transportasi, Sudjatmiko juga menyoroti potensi cuaca ekstrem yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Ia mendukung langkah pemerintah melakukan modifikasi cuaca di beberapa provinsi strategis seperti Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.


Di samping itu, ia meminta pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan pembaruan informasi cuaca secara berkala, terutama bagi sektor transportasi udara dan pelayaran.


“Pemerintah perlu terus berkoordinasi dengan BMKG untuk pembaruan informasi cuaca secara berkala. Hal ini sangat penting, terutama bagi keselamatan sektor penerbangan dan pelayaran di tengah cuaca yang masih fluktuatif,” pungkasnya.