Noel vs Gerakan Anti Terorisme: Menunggu Nyali Seorang Erick Thohir



HARIANMERDEKA. ID-Sudah beberapa minggu ini energi, waktu, pikiran dan emosi kita telah dihabiskan oleh kegaduhan yang dibuat oleh Immanuel Ebenezer atau Noel,  Ketua Umum Jokowi Mania (Joman) organ relawan pendukung Jokowi. Pada saat dia sudah memutuskan mempunyai sikap untuk mendukung, membantu  dan bersedia menjadi saksi yang meringankan di Pengadilan kasus Munarman, kegaduhan seolah tidak berhenti. Mayoritas di negeri ini terhenyak atas langkah kontroversial yang dilakukan oleh Noel.


Saya pribadi sudah melakukan tabayun atau klarifikasi kepada Noel untuk mempertanyakan apa maksud dan tujuannya menjadi saksi yang meringankan munarman. Apakah hal tersebut murni inisiatif sendiri atau ada mindmaster yang menyuruh Noel melakukan hal itu ? Jawaban dari Noel  bahwa membela terduga teroris Munarman adalah murni inisiatif dia sendiri. Dia juga mengatakan bahwa tujuannya adalah agar negeri ini segera memutus rantai kebencian. Pada saat dia membela seorang Munarman, dia merasa akan berkontribusi untuk menciptakan gerakan memutus kebencian yang terjadi di negeri ini.


Secara pribadi saya setuju dengan intens dari Noel untuk memutus rantai kebenarannya di negeri ini. Tapi saya SANGAT TIDAK SETUJU dengan pilihan langkah yang dipilihnya dengan membantu terduga teroris. Noel lupa bahwa Munarman yang merupakan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) yang sekarang sudah almarhum, ditangkap bukan karena kebencian masyarakat terhadap dia. Tapi karena langkah-langkah atau aksi-aksinya yang terindikasi kuat mendukung terorisme. Ini merupakan langkah pro-justitia.


Saya pribadi sudah berbicara langsung dengan pimpinan Densus 88 Anti Teror Polri. Saya mengapresiasi langkah Densus 88 karena Polri telah begitu mendalam mempersiapkan bukti-bukti yang kuat, sehingga Densus 88 bisa menangkap Munarman. Sehingga Polri yakin bahwa Munarman jelas terindikasi terlibat dalam gerakan terorisme. Saya juga pernah berbicara dengan salah seorang ahli Psikologi Forensik, yaitu Kasandra Putranto yang juga pernah menjadi saksi dalam persidangan Munarman. Dia mengatakan bahwa keterpaparan Munarman terhadap terorisme itu sudah termasuk pada level yang sangat tinggi.


Dari dua premis ini jelas bahwa Munarman dipersangkakan menjadi seorang teroris bukan karena kebencian, bukan juga karena stigma, tapi memang ada bukti-bukti kuat yang mendukung ke arah sana. Noel mungkin lupa hal ini. Jadi menurut saya langkah dari Noel ini sangat kontraproduktif terhadap gerakan anti terorisme yang sedang digalakkan oleh pemerintahan Presiden Jokowi melalui Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).


Nah, selanjutnya apakah kita terus bergaduh untuk mempermasalahkan sikap Noel yang terus mengeras bahwa apa yang dilakukan itu benar? Beberapa kali setelah kejadian itu, sikap dari Noel terus mengeras. Bahkan semakin vulgar melawan. Dia meyakini apa yang dilakukan itu benar. Dia meyakini bahwa dia mempunyai hak konstitusional untuk membela sahabatnya yang bernama Munarman. Itu sesuatu yang sulit untuk diubah. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya.


Beberapa kelompok organ relawan sudah bersikap. Ada beberapa orang telah melakukan demo di Kementerian BUMN agar Noel dipecat dari posisinya sebagai Komisaris di PT. Mega Eltra. Beberapa kelompok relawan lainnya pun sudah mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi terkait posisi Noel atau Jokowi Mania, apakah masih layak di pertahankan dalam barisan pendukung Presiden Jokowi atau tidak. Artinya langkah-langkah strategis ini sudah dilakukan.


Sekarang yang paling penting menurut saya kita menunggu langkah aksi nyata dari seorang Erick Thohir. Punya nyalikah dia untuk memberhentikan Immanuel Ebenezer sebagai Komisaris PT. Mega Eltra? Punya keberaniankah seorang Erick Thohir untuk membersihkan pendukung terorisme di dalam tubuh BUMN? Kita juga menunggu, apakah ada konsistensi dari seorang Erick Thohir yang pada September 2021 begitu gigih melakukan pencitraan bahwa dia tanpa kompromi akan membersihkan unsur-unsur radikalisme, intoleransi dan ekstrimisme di dalam tubuh BUMN. Saat ini konsistensi itu sedang diuji oleh publik, apakah Erick Thohir berani memutuskan untuk membela NKRI? Atau dia hanya serupa ayam sayur yang oportunis karena memang dia mempunyai kepentingan tersendiri untuk tahun 2024.


Kita tunggu saja. Nah bagaimana dengan sikap presiden Jokowi? Jujur saya sendiri tidak ingin Presiden Jokowi memberikan komentar terhadap isu receh seperti ini. Jangan semua permasalahan di negeri ini selalu bermuara kepada sikap dan keputusan Presiden Jokowi. Terlalu banyak urusan di negeri ini yang menjadi prioritas dari Presiden dan tidak perlu merepotkan atau menambah masalah dalam pikiran Presiden Jokowi dengan urusan Noel. Seharusnya yang bisa memfilter presiden adalah pembantunya, yaitu Menteri. Pertanyaannya sekali lagi, apakah Menteri negara BUMN Erick Thohir punya nyali? 


Terakhir saya katakan, marilah kita berhenti bergaduh terkait masalah Noel. Karena menurut saya sangat kontraproduktif. Kita tidak bisa lagi menghabiskan energi, waktu, dan pikiran kita hanya untuk membahas Noel vs Gerakan Anti Terorisme. Sekarang kita menunggu saja langkah konkrit dari Menteri negara BUMN, Erick Thohir. 


Kita juga tidak perlu terus mencecar Noel dan  mempermasalahkan langkah kontroversialnya. Karena dia juga mempunyai hak untuk bersikap. Namun kita juga punya hak penuh untuk tidak sependapat dengan Noel. Kita tunggu saja aksi dan nyali dari Menteri Negara BUMN, Erick Thohir. Seandainya Erick Thohir ternyata tidak mengambil langkah apa-apa, berarti memang dia manusia oportunis tanpa nyali yang kebetulan diberikan kemewahan menjadi pejabat negara. Kita lihat saja.


Kini saatnya kita meneruskan hidup. Jangan mau energi bangsa ini terbuang percuma di"plokotho" dengan masalah Noel yang tidak berkesudahan. 


So, kita tunggu saja nyali dari seorang Erick Thohir !!!


Jakarta, 7 maret 2022.

Penulis :Rudi S Kamiri

0 Komentar

Posting Komentar