Banyak Spin-Doctor di Masa Hiruk Pikuk Kasus Penganiayaan Ade Armando



HARIANMERDEKA.ID-Hati-hati, di tengah hiruk pikuk kasus penganiayaan Ade Armando ini, banyak spin-doctor yang mengambil kesempatan memelintir (spin) isu-isu tertentu.

Paling tidak kita mencatat ada empat contoh pelintiran isu yang ramai beredar semasa euphoria kasus ini:

Spin pertama, terkait yang katanya Ade Armando tersangka kasus penistaan agama dulu. Pelapornya Johan Khan yang menuduh Ade menista agama, gegara waktu itu 20 Mei 2015, di status medsosnya tertulis “Allah kan bukan orang Arab… dst.” Namun ini baru dilaporkan oleh Johan Khan pada tahun 2016.

Pihak kepolisian akhirnya mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) terhadap kasus ini. Namun Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menggelar sidang praperadilan yang diajukan pelapor terhadap SP3 tersebut. Jadi ada perbedaan pendapat kepolisian dan pengadilan negeri saat itu. Isu ini lalu di-spin seolah Ade Armando sudah bersalah dan kasusnya beku.

Spin kedua, mulai beredar di medsos bahwa kasus pengeroyokan dan penganiayaan Ade Armando itu – katanya – adalah semacam rekayasa penguasa (pemerintah?) demi untuk pengalihan isu. 

Spin ketiga, dalam opininya di CokroTV yang bertajuk: SIAPA P3NG4N1AYA AD3 4RMAND0? Grace Natalie menyebutkan: “Beredar sebuah foto screen shot percakapan sebuah grup Whatsapp dengan nama Relawan Anies Apik 4… dst.” Ini lalu di-spin jadi judul berita, “Tuding Relawan Anies Dalang Kasus Ade Armando Bermodal Tangkapan Layar WA, Dimana Logika Grace Natalie?” 

Spin keempat, dari tulisan opini Dahlan Iskan di situs Disway yang bertajuk, “Demo Armando” ada ditulis, “Ia tentu punya ''dendam'' untuk membuat bangsanya tidak seperti masa kecilnya: miskin dan terkucilkan. Miskin karena orang tuanya harus kehilangan pekerjaan sebagai tentara. Sebenarnya pangkat bapaknya lumayan: mayor. Jabatannya juga lumayan: atase militer di dua negara ASEAN. 

Kemudian, “Tapi Sang Ayah harus diberhentikan setelah terjadi G-30-S/PKI di tahun 1965. Mungkin dianggap terlalu Sukarnois –yang harus dibersihkan oleh Orde Baru. Keluarga ini sampai harus merantau ke Malaysia untuk mencari penghidupan.”

Tulisan Dahlan ini lalu di-spin menjadi, “ORANG TUA ADE ARMANDO BERPANGKAT MAYOR, DIDUGA TERLIBAT G-30-S/PKI DI TAHUN 1965,, DAN DIBERSIHKAN OLEH ORDE BARU (PRESIDEN SOEHARTO), SEHINGGA ADE ARMANDO MEMPUNYAI "DENDAM" DENGAN SOEHARTO, SEPERTI LAYAKNYA PARA PKI DAN KETURUNANNYA YG DITUMPAS SAMPAI KE AKAR  AKARNYA OLEH JENDRAL SOEHARTO.

Macam-macam penyesatan informasi seperti ini bisa diduga demi kepentingan yang macam-macam pula. Bisa untuk pembunuhan karakter seorang Ade Armando. Sekaligus pembunuhan karakter mereka-mereka yang dianggap “membelanya”. Seperti contoh kasus pemelintiran opini Grace Natalie dan Dahlan Iskan di atas tadi. 

Di era media-sosial seperti ini memanglah serba amat sangat leluasa untuk mengeksepresikan pendapat, sekaligus memelintir isu-isu tertentu demi membangun opini publik yang ‘menguntungkan’ bagi pihaknya.

UU ITE pun masih rada “canggung” untuk menjadi pagar pengaman area bermain medsos. Pasal-pasal yang diduga masih multi-interpretasi kerap dituduh sebagai ‘pasal karet’. 

Jadi bagaimana?

Mengajak publik, pemirsa, pembaca, untuk menjadi lebih kritis sudah banyak yang melakukan. Supaya kita tidak berhenti pada membaca judul untuk kemudian langsung komen. Kejeblos dalam segmen Pembaca Judul Langsung Komen (PJLK).

Tak cukup sampai di situ, rupanya kita pun mesti lebih rajin lagi melakukan riset seperlunya untuk mengecek sumber asli (primer) atau sumber pembanding (sekunder). Boleh via internet atau mengonfirmasi kepada sumber-sumber kredibel yang bisa kita jangkau. Sebelum akhirnya mengambil kesimpulan dan bersikap.

Era teknologi komunikasi dan informasi seperti sekarang ini memang memudahkan orang untuk mencari dan mendapatkan informasi. Banjir bandang informasi.

Yang sulit atau jadi lebih susah adalah mencari atau mendapatkan informasi yang benar, akurat dan berimbang. Apalagi di tengah derasnya banjir bandang informasi yang penuh dengan polusi pelintiran (spin).


Waspadalah… waspadalah!

15/04/2022

Penulis:Andre Vincent Wenas*, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis (LKS) PERSPEKTIF, Jakarta.

0 Komentar

Posting Komentar