Jika Wacana Tiga Periode Terus Bergulir, Peluang SBY Maju di Pilpres 2024 makin Besar

 

Susilo Bambang Yudhoyono

HARIANMERDEKA. ID, Jakarta- Meskipun secara resmi Presiden Joko Widodo sudah menyatakan menolak penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden. Namun wacana tersebut terus bergulir. Selasa (19/04). 

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Lembaga Institute Riset Indonesia (INSIS) terkait wacana tersebut.

Peneliti Senior INSIS Dian Permata mengatakan jika wacana perpanjangan masa jabatan presiden benar-benar bisa direalisasikan, maka Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpeluang kembali ikut serta dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Kata dia,  jika wacana itu tidak distop dan lanjut ke MPR, maka meskipun tiket Presidensi SBY sudah expired,  secara otomatis akan hidup lagi.  Lanjut dia,  apakah SBY mau menggunakan, itu soal lain. 

Dian menilai amendemen UUD 1945 untuk mengubah masa jabatan presiden masih terbuka lebar.

Sebab, ia menyebut, Presiden Joko Widodo atau Jokowi hingga kini belum tegas menolak wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.

"Hal ini dapat dilihat masih wira-wirinya isu tersebut. Karenanya, sepanjang tiada ketegasan dari Jokowi, maka isu akan tetap bergulir," ucap Dian.

Selain itu, Dian melanjutkan, dalam hasil survei lembaganya, nama SBY mendapatkan angka yang terbilang tinggi di Jawa Barat untuk elektabilitas calon presiden.

Dia menyebut, SBY mendapatkan elektabilitas sebesar 10,09 persen, di bawah Prabowo Subianto yang dipilih masyarakat Jawa Barat sebesar 22,05 persen.

Baru setelah SBY, ada nama Jokowi dengan elektabilitas yang hanya menyentuh angka 6,14 persen untuk dipilih kembali.

Selanjutnya, ada nama Muhaimin Iskandar yang mendapat angka 0,91 persen.

Sementara, responden yang belum memutuskan untuk menjawab dan rahasia sebanyak 66,82 persen.

"Dalam simulasi jika terjadi amendemen soal klausul tersebut (jabatan 3 periode), nama SBY disandingkan dengan peserta capres lainnya, maka angka SBY terbilang tinggi," ujar Dian.

"Mengapa tinggi? Karena posisi SBY saat ini tidur. Alias tidak running campaign for president. Beda dengan nama capres lainnya yang memang ada real copras capres 2024."

Adapun survei INSIS tersebut dilakukan pada 24 hingga 29 Maret 2022. Survei ini menggunakan multistage random sampling dan wawancara tatap muka.

Survei ini memiliki margin of error lebih kurang 4,47 persen dengan level of confidence 95 persen.

Survei dilakukan pada 27 daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat dengan total responden sebanyak 440 orang.





0 Komentar

Posting Komentar