Mari Kita Menguliti Sifat dab Karakter Kepemimpinan Jokowi

 


HARIANMERDEKA. ID-Siapa yang saat ini tidak mengenal Jokowi, jenis manusia super yang memiliki rekam jejak telah banyak diketahui publik secara luas. Dari latar belakang kehidupannya yang tinggal di bantaran kali, hingga Jokowi diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada sampai meraih gelar Insinyur. Pasca bekerja di beberapa perusahaan, dengan membuka usaha kayu dengan nama CV Rakabu yang digelutinya hingga berhasil melepaskan jerat kemiskinan, dibalik eksport mebel perusahaannya ke beberapa negara seraya menjalin hubungan dagangnya secara terbuka. Hingga segala urusan pribadi dan keluarganya telah selesai untuk selanjutnya ikut berpartisipasi membangun bangsa dan negara ini.


Menumbuhkan sikap nasionalisme kebangsaan bukanlah perkara yang sederhana, sebab ada ratusan juta penduduk serta ribuan pejabat yang menikmati kekayaan negara. Lalu untuk kepentingan apa seseorang harus menjadi fokus pada persoalan ini. Dibalik sikap tak acuh masyarakat tersebut, namun tidak demikian halnya terhadap jokowi. Faktanya, viralnya pemberitaan di sosial media atas beredarnya foto Jokowi sewaktu menjadi panitia sebuah seminar ekonomi pada tahun 1998. Begitu mengejutkan publik, dimana dalam foto tersebut tampak kehadiran Sri Mulyani Indrawati yang kala itu menjadi narasumber seminar tersebut. Ini mengkonfirmasi kita semua, bahwa otak kecilnya telah menanamkan kepedulian akan nasib bangsa ini.


Karir politiknya dengan bergabung di partai PDIP tahun 2004 hingga secepat kilat menghantarkannya memenangkan pilkada Solo pada tahun 2005-2012 untuk menjabat sebagai Walikota Surakarta - Solo. Jika pada pilkada pertamanya beliau meraup 82,23% pemilih, maka pada pilkada keduanya tahun 2010 dirinya unggul semakin telak dengan mengantongi 90,08% yang nyaris menggemparkan. Fakta ini lagi-lagi membuktikan bahwa dirinyalah yang pada akhirnya memahami benar bagaimana setiap rakyatnya yang tertawa melalui caranya menangis, dan bagaimana rakyat menangis dengan cara tertawanya yang tersengal. Sehingga beliau meninggalkan lawan-lawan politiknya yang hanya memiliki kecintaan palsu terhadap negeri ini.


Jika pertarungan pilkada Solo dianggap publik bahwa dirinya hanya sebatas jago kandang, maka tantangan selanjutnya justru lebih mengejutkan. Siapa pun pasti memahami bahwa jakarta sangat jauh berbeda dengan Solo sebagai kota kecil. Selain menjadi ibukota negara, Jakarta juga merupakan pemilih rasional yang sarat akan kritik hingga menjatuhkan lawan politiknya, apalagi lawan jokowi ketika itu adalah Fauzi Bowo atau biasa dikenal dengan sebutan Foke. Bertarung di Pilgub DKI adalah arena terpanas di republik ini, selain harus berkantong tebal, sosok calonnya pun harus royal dan populer. Namun betapa anehnya ketika beliau berhasil menggulingkan analisa pengamat dan membungkam semua lembaga survey sewaktu dirinya memenangkan pemilihan Gubernur tersebut.


Publik Indonesia nyatanya masih penasaran, walau belum selesai masa jabatannya sebagai gubernur, lagi-lagi Jokowi dipaksa masyarakat agar ikut bertarung di pilpres 2014 sekaligus memancing reaksi Megawati agar merekomendasikan dirinya sebagai capres dari PDIP. Walau tidak sesignifikan pilkada Solo, namun nyatanya Jokowi tetap lolos hingga mengalahkan capres Prabowo Subianto walau pada pilpres 2014 Gerindra berada di barisan oposisi pemerintah. Namun pada pilpres 2019, pasca kemenangan keduanya, Jokowi justru menampakkan sikap politik yang elegan dengan menggandeng Prabowo Subianto menduduki Menteri pertahanan sekaligus mengajak partai Gerindra bergabung sebagai koalisi pemerintah saat ini.


Memimpin Indonesia bukan sekedar mengadopsi pemikiran dari kalangan tradisional, namun ada banyak bahkan ratusan jumlah universitas yang siap mengupas berbagai kebijakan pemerintah yang cacat dan menyimpang, apalagi keberadaan organisasi masyarakat yang siap menerjunkan anggotanya dalam menolak kebijakan yang kontra akan nasib rakyat. Termasuk lembaga independen yang justru tak jarang hadir sebagai politisi yang bertamengkan atas nama rakyat pula. Sikapnya yang tak haus akan pujian, serta tak gentar pula akan kritik dari berbagai pihak, menampakkan bahwa belenggu feodalisme dan sikap inferior yang menghantui bangsa ini telah disingkirkannya demi menggapai kokohnya martabat bangsa di mata dunia.


Menggerakkan dan mengendalikan serta menerapkan pola kepemimpinan adalah menjadi Fokus perhatiannya, termasuk terhadap lawan-lawan politik dan kawan-kawan yang sering menusuknya dari belakang. Cara memimpinnya pun diarahkan untuk memberikan reward and punishment kepada siapa saja walau terhadap pihak yang mengkritiknya secara pedas sekalipun. Cara ini pada akhirnya mempengaruhi publik internasional hingga jokowi beberapa kali viral di sosial media yang menjadi sorotan dunia, bahkan mereka menginginkan hadirnya pemimpin layaknya sosok kerempeng yang kita miliki saat ini. Beliau bukan saja seorang pemimpin yang sedikit berbicara, namun pandai pula dalam menciptakan optimisme rakyat terhadap kemajuan bangsa, serta cakap pula dalam menelantarkan semua musuh-musuh negara demi menyelamatkan rakyat sepenuhnya.


Jika selama ini banyak pandangan pemimpin yang mengarah kebawah demi mendapati apa yang di inginkan rakyatnya, namun nyatanya tidak demikian halnya terhadap Jokowi, dirinya yang berasal dari kalangan rakyat jelata tidak lagi harus mencatat-catat apa yang dibutuhkan rakyatnya oleh karena harapan itu telah menyatu dengan nafas kesehariannya yang sarat akan peluang dan harapan kesejahteraan sebagaimana dirinya yang berhasil keluar dari tekanan kemiskinan yang menjeratnya masa itu. Oleh karenanya, tatapannya justru ditengadahkan pada tatapannya yang tertuju kepada siapa saja pihak yang menari diatas penderitaan rakyat, serta bagaimana mengakhiri penindasan para kapitalisme ini demi terbukanya koridor baru yang membuka peluang bagi cita-cita bangsa ini.


Penulis :Andi Salim



0 Komentar

Posting Komentar
close